Rabu, 12 November 2014

RA POPO

Oleh: Aisyah Asafid Abdullah
           
            Ahmad Syafii adalah nama pemberian sang kakek, Ibunya selalu mengatakan padanya bahwa kakeknya menginginkan cucunya menjadi seorang khalifah seperti Imam Syafii. Terkadang jika ingat hal itu, ia kerap jengkel terhadap teman-temannya yang kerap memanggilnya dengan sebutan jawir. Kulitnya yang hitam dan logat jawanya yang sangat kental. Ia selalu dijadikan objek bahan cibiran teman-temannya.

Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia orang yang bisa memposisikan diri. Menentukan alur dalam peta kehidupannya. Begitu juga tanggung jawab atas kedua orang tuanya dan adik-adiknya.

Kala itu ia duduk di bangku kelas tiga, Fikri adiknya yang masih duduk dibangku kelas satu kerap mengadu pada sang ibu tentang sikap teman-teman kakaknya yang tak wajar. Teman-teman kakaknya kerap membuli kakaknya tersebut. Namun Ahmad Syafii selalu mengingatkan Fikri untuk tidak mengadu kepada ibunya.

Suatu ketika Syafii tahu bahwa Fikri mengadu, ia memarahi Fikri habis-habisan. “Kamu tidak tahu emak banyak sekali yang di pikirkan, Bapak sakit ngurusin kita bertiga Azizah masih kecil.”Syafii kesal. “Siapa yang di jahatin siapa yang ngadu, jangan berlagak sok pahlawan deh padahal kaya banci!” Syafii dengan nada keras. “Enak aja ngatain, Banci. Dibelain malah ga jelas marah-marah.” Fikri. “Apa namanya kalo bukan banci, Cuma masalah gitu doang ngadu ke emak!” Syafii menegaskan. Mendengar ucapan kakaknya Fikri diam, tak menghiraukan kakaknya.

            Jam dinding di ruang tengah menunjukan pukul lima sepersepuluh.Syafii yang berada di kamarnya di panggil oleh ibunya. “Mad..mad..mad!” Sembari mengetuk pintu.
“Nggeh Mak.” Ahmad
“Fikri kenapa yah Mad dari kemarin dia murung terus mukanya, susah makan, terakhir dia cerita tentang temanmu itu Sobari” Tanya Ibu.
“Bener toh, temenmu yang namanya Sobari suka ngerjai kamu Mad?” Tanya ibu.
“Nggeh Mak, tapi Ahmad Ra popo.”Ahmad
“Ra popo gimana toh nang?” Ibu
“Ya Ikhlas mak, maafin Sobari Mak.” Ahmad. Mendengar jawaban Ahmad ibunya hanya membalas senyum, pikirnya ia membenarkan apa yang dirasakan anak sulungnya itu.

            Malamnya Ahmad menemui Fikri. “Dek, kamu kenapa?”Ahmad. Fikri hanya diam tidak menjawab pertanyaan kakaknya.”Apa yang kamu lihat dek di sekolah?”. Ahmad kembali bertanya. Lalu Ahmad dengan cermat memandang wajah adik lelakinya itu, mata Fikri mulai mengandung air. Seperti ada sesuatu yang disebunyikan pada Fikri, tangisan Fikri akhirnya pecah, Ahmad merasakan baru kali ini ia melihat adik lelakinya menangis begitu pilu. Ia memeluk erat adiknya tersebut. “Dik, cerita sama kakak apa yang kamu rasain, jangan di pendam.”Pungkas Ahmad.

            Fikri akhirnya memilih diam begitu lama, kakaknya dengan sabar menunggu ia bercerita. “Aku tahu kak setiap kali di sekolah teman-teman kakak mencaci maki kakak, menjahili kakak, dikunci di kamar mandi, dijeburin ke got sekolah, sepatu kakak dilempar di genteng, tas kakak diumpetin dan itu dilakukan oleh Sobari dan teman-temannya.” Jelas Fikri

Ahmad hanya diam, “Aku bingung dengan kakak, kenapa hanya diam saja, bahkan kakak setelah dikerjain habis-habisan, kakak berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.” Fikri.
“Dek, kamu pernah dicuci kakinya sama emak pake air hangat di baskom?” Ahmad. Fikri menggeryitkan mata “ Pernah” Jawab Fikri. Lantas emak selalu bilang apa ke kamu, “Ia selalu menasehatiku kak..”Fikri dengan nada menggantung.”Apa itu?, pesan emak?” Tanya Ahmad.

“Kamu yang nurut sama kakakmu, dia sudah bekerja keras membantu ibu semenjak Bapak sakit.” Fikri menirukan ucapan ibunya. Mendengar cerita fikri Ahmad tercengang, ia berpikir ternyata nasihat yang diselipkan ibunya berbeda. “Dek, tahu tidak nasihat apa yang kerap emak ucapkan ke kakak termasuk ketika kaki kakak di basuh oleh tangan emak?” Ahmad. “Tidak tahu” Fikri. “Beliau selalu menasihati kakak, Kamu yang sabar toh, Mad! Kadang hidup itu memang harus dipaksakan adakalanya kita ingin bicara tapi kita harus diam, adakalnya kita begitu sakit tapi kita harus memaafkan.” Ahmad. “Terus?” Fikri. “Ya, kakak sedang menghadapi Sobari dengan apa yang dinasihatkan Emak ke kakak.” Ahmad. Mendengar penjelasan kakaknya Fikri tersenyum dan memeluk kakaknya. “Kakak memang hebat!” Puji Fikri pada Ahmad.

*****

Setelah lima belas tahun kemudian, Ia kembali pada letak yang sebenarnya yaitu dikaki ibunya. Tanpa  kata ia memijat-mijat kaki ibuku yang ia rendam dalam baskom berisikan air hangat. Kulit kakinya kasar dan berkerak karena pecah-pecah. Meskipun usianya belum empat puluh tahun namun wajah ibunya sudah menampakan kekriputan di kantong mata. Terlebih akan terlihat sangat jelas jika sang ibu tersenyum.

“Kaki Emak memang sudah pecah-pecah semenjak Emak usia dua puluh tahun, semenjak Emak pindah ke Jakarta. Belum menikah dengan bapakmu!” Pungkasnya sambil tersenyum.
“Kata bapakmu sih, ibu kurang minum. Tapi kalau menurut Emak bukan kurang minum tapi tidak cocok dengan air di Jakarta!”

Ia tidak berkomentar hanya menorehkan senyum. Ceritanya sudah berulang kali didengar, setiap kali aku membasuh kedua kakinya. Ibunya selalu mengatakan hal yang sama. Ritual membasuh kaki ibunya memang sudah lama ia jalankan semenjak SD dulu, biasanya ia lakukan saat musim hujan atau aku ia melakukan ujian.

Kebiasaan membasu kaki yang mengawalinya adalah ibunya yang kerap membasuh kakinya saat ia terlalu keras bekerja untuk biaya sekolahnya. Biasanya sambil memijat-mijat kaki ibunya sembari menasehatinya. “Kamu yang sabar toh, Mad! Kadang hidup itu memang harus dipaksakan adakalanya kita ingin bicara tapi kita harus diam, adakalnya kita begitu sakit tapi kita harus memaafkan.” Ucap sang ibu kepada anaknya kala itu.

Musim akhir-akhir ini sulit diprediksi, bulan-bulan telah berlalu dengan panas tanpa hujan. Kebiasaan ini pun kembali bukan karena musim hujan. Tapi karena Ia seperti menuai emas yang telah digali dengan kepayahan sedari dulu. Ahmad kini menjadi seorang pengusaha juice sukses, ia kini memiliki lebih dari dua puluh tiga outlet juice.

Ritual yang sering  ia jalani bukan semata percaya akan sukses atau berhasil setelah melakukan ritual membasuh kedua kaki ibunya. Namun lebih ke pengabdian, rasa terima kasih pada ibunya yang semenjak kecil ia hanya sendiri mendidiknya.

Karena air dalam baskom sudah dingin, ia urungkan untuk mengambil air panas untuk kucampurkan, agar air dalam baskom kembali hangat.

“Tunggu sebentar mak..!” Ia meninggalkan ibu dengan kaki yang masih direndam.
“Iya, Mad!” Jawab ibu.

Selang kemudian ia kembali dengan membawa air panas dan sikat gigi bekas yang berada di loster dapur. Tanpa diminta ibu sudah mengangkat kedua kakinya. Sebelum  ia campur, air yang sudah dingin itu ia pakai untuk mencuci sikat gigi bekas yang sedikit berdebu.  Baru ia tuangkan.

Ibu pun kembali merendamkan kakinya ke air hangat. ia kembali memijat-mijat kaki ibu.  Ia usap-usap kulit kaki ibunya perlahan penuh kasih, kulit yang pecah-pecah itu lalu  ia urungkan untuk menyikat dengan sikat gigi bekas karena kakinya penuh bercak tanah yang sudah melekat.

Pelan-pelan ia membersihkannya. Ia benar-benar menikmati menyikat kedua kaki ibunya. Ibunya diam tak bersuara. Seakan dia pun menikamatinya. Saat hampir selesai menyikatnya. Ia menoleh pada ibunya,tak kuduga ibunya menangis.

“Kenapa Mak, kenapa emak  menangis?” Pungkasku cemas.
Ibunya hanya menangis tanpa berkata apa-apa.
Tidak seperti biasanya ibu menangis, baru kali ini ia melihat ibu menangis. Tidak seperti biasanya, ia yang selalu terlihat tegar.

“Emak, kenapa menangis?” Pungkas Ahmad kembali sambil menyeka mata ibunya.
Tiba-tiba air mata Ahmad pun mengalir begitu saja, tak kuasa melihat ibunya menangis.
“Apa kau ingat dengan Sobari , yang sering menjahilimu!”Ibu dengan suara serak.
“Iya bu aku ingat.” Ahmad.
“Berterima kasihlah padanya, karena dia membuatmu seperti ini!” Ibu.
            “Terkadang kita harus berterima kasih pada orang-orang yang telah mencaci kita.”Ibu
            “Ia mak, tapi Ahmad tidak tahu dia dimana sekarang.” Pungkas Ahmad.

            Setelah hampir ia lupakan, ia menemui sesuatu yang di luar segala dugaannya. Ahmad membawa kedua orang tuanya dan kedua adiknya umroh, belum sebulan pulang dari umroh. Ia belum menikah, ia melamun tentang istri idamannya di kantor sekaligus gudang buah miliknya. Tiba-tiba ia disadarkan dengan pembeli, meski ada karyawan yang melayani ia tetap saja mengontrol dan mengawasi kinerja karyawan di gudang maupun di toko. Seorang pembeli ingin menemuinya.

            Ia memperhatikan sang pembeli tersebut, mukanya lebar, berbadan tinggi besar, berkulit hitam, beralis tebal dan memakai topi. Sekejap hampir ia ingin berteriak di depan karyawan-karyawannya. Tapi sepasang mata itu pernah merendahkannya. Mungkinkah jika ia menegur pembeli itu. Ia akan menyerangnya dan mancaci di depan karyawan-karyawannya. Dengan segala kekhawatiran, ia memberanikan diri menemui lelaki berbadan tinggi besar itu.

“Saya Ahmad, Sob!”Ahmad
Sobari terdiam memperhatikan Ahmad
“Kamu Sobarikan?” Ahmad
“Iya..” Sobari
“Saya Ahmad Syafii, Jawir?”Ahmad
“Oh, iya ya Mad.” Sobari sambil gugup tak percaya orang yang selama ini ia sepelekan kini menjadi orang yang sukses.
“Sob, terima kasih ya.” Ahmad
“Untuk apa Mad?” Sobari.
“Untuk semua yang telah kamu lakukan terhadap saya dulu..” Ahmad.
“Maafkan saya Mad, saya benar-benar menyesal.” Sobari menyesal
“Ra popo Sob, ra popo.” Ahmad tersenyum pada temannya itu.

Dan ia rangkul tubuh besar itu sambil menelan ludah, menahan air mata. Mereka yang selamanya tidak merasa berteman. Sore itu berpelukan seperti sahabat lama yang saling merindukan.


Mencintai dalam Diam

Oleh : Aisyah Asafid Abdullah
19-07-2012
Dipan atau biasa kita sebut bale yang terbuat dari kayu itu ditempatkan di tengah ruang. Wajahnya tertutup kain putih transparan. Semua orang tentu dapat melihat wajahnya, wajahnya terang begitu tenang terlihat dari bibirnya tersenyum tanpa beban.
Kubuka al-Quran kecil yang biasa kubawa kemana-mana. Aku bukan satu-satunya tamu yang begitu datang langsung mengaji menghadap bale. Rasanya sangat ganjal baru saja kemarin ia memberi pesan untuk sedikit bersabar mengenai sikapnya. Kini ia dihadapanku terbujur kaku “Siapa yang tahu arti sikapmu beberapa bulan terakhir ini..?”. Dina Membatin
Tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian serba hitam, kukira-kira itu adalah ibunda Rifki. Ia begitu terlihat terpukul, matanya sembab dan masih mengandung air karena menahan tangis.
Aku berusaha mendekati dan membuka pembicaraan namun rasanya tidak nyaman jika aku menayakan hal yang detail mengenai Rifki kepada wanita setengah baya itu.
“ Bu, bersabarlah..” sambil kuulurkan tangan dan menciumi tangannya. Ia hanya membalas dengan senyuman sedikit memaksa, seperti menunjukan bahwa ia kuat.
Lantas, Aku mencari-cari orang yang dekat dengan Rifki, namun aku benar-benar tidak tahu harus menanyakan ke siapa.
“ Mbak Rany, Asisten Rifki..!” Hatiku menebak benar. Namun sayang, aku tak dapat menemukan asistenya itu..
Diluar banyak pemburu berita menunggu almarhum dikebumikan. Ada beberapa wartawan menanyakan kondisi korban yang selamat. Namun tidak ada yang berani membuka mulut, dengan alasan korban masih kritis. Mendengar hal itu, kuberanikan bertanya, “ Siapa yang masih kritis itu..?”, “Asistennya..” Jawab seseorang kepadaku.
“Mbak Rany, Kritis..!” Pikirku tak percaya. Kejadian ini benar-benar diluar dugaan seseorang. Rasanya aku ingin teriak, meluapkan semua apa yang terjadi antara aku dan Rifki, namun siapa yang dapat mempercayaiku.
Tidak kuduga Muhammad Rifki Andhika, Presenter terkenal itu pergi dalam usia begitu muda. Belum tiga puluh tahun.  Terlebih ia pergi meninggalkan kesan tanya, sulit bagiku untuk menerima ia pergi.
Dua bulan terakhir ini Rifki adalah seniorku di ajang pencarian bakat Jurnalistik. Dia mempunyai sikap yang humanis, fleksibel dan mempunyai karismatik yang tinggi. Semua orang yang berada didekatnya begitu nyaman. Termasuk aku sendiri. Selain berkarismatik wajahnya memang tampan, hidung mancung, berkulit putih, perawakaanya tinggi besar.
Pada waktuy itu aku mengikut ajang pencarian bakat jurnalistik, saat itu aku bermasalah dengan jilbab yang ku pakai karena terlalu lebar untuk seorang calon jurnalistik, meski begitu aku lolos karena kegigihan atas cita-citaku sebagai seorang jurnalistik professional. Waktu itu tahap wawancara, kebetulan aku mendapat giliran wawancara dengan presenter kondang tidak lain adalah Rifki. Hatiku senang bukan kepalang mendapatkan kesempatan diwawancari oleh sang idola. Meskipun saat wawancara dag-dig-dug, wawancara berhasil dan aku lolos masuk ke tahap berikutnya.
Kesan pertama waktu itu sangat berarti, aku ingat ketika  itu, aku melihat list wawancara yang aku rancang sendiri, dugaan sementara yang mungkin akan ditanyakan oleh Rifki. Akhirnya waktu wawancara pun tiba, hatiku berdegup kencang.
 “Dina Fauziyah..!” Lalu aku memasuki ruangan
 “Dina Fauziyah..?” Suaranya menggantung wajahnya yang menunduk melihat list nama anggota jurnalis perlahan melihatku
“Iyaa pa, Assalamualaikum Wr. Wb....” Aku semakin terlihat grogi..
Rifki tersenyum seperti menahan geli..
“Tertawa saja pak, tidak usah ditahan..” Aku sambil mengetuk-ngetuk jari-jariku ke meja
“Kenapa tangan kamu gemetaran..?, Bukankah seorang jurnalis harus bisa mengendalikan diri, baru juga wawancara belum terjun ke lapangan..” Rifki Andhika seperti ragu..
“Afwan pa, boleh saya minta satu permintaan sebelum wawancara..?” Aku dengan raut wajah yang tidak mengenakan
“Boleh, apa permintaanmu..?” Rifki menanyakan..
“Saya mau wawancara saya ditemanin dengan panitia perempuan..?” Jawabku
“Kenapa..? Rifki penasaraan
“Jika saya tidak di temani saya akan merasa malu dan takut..” aku dengan tegas..
“Malu dan takut..!!,  kamu itu calon jurnalistik jangan mental cemen..!”Rifki menimpaliku
“Bapak benar, meski begitu!,  malu dan takut tetap harus ada. Jika tidak, kejujuran akan semakin menghilang dari kebudayaan kita, keberanian diatas ketidakadilan , itu semua karena malu dan takut kian pudar dari sikap seseorang..” Aku dengan tegas
“Kamu benar, lantas apa yang kamu telah perbuat, sampai kamu minta ditemanin dengan panitia perempuan, apa yang kamu takuti dan merasa malu?” Rifki  kembali menimpaliku

“Satu,hanya satu karena hati seorang perempuan, jika tak ada malu dan takut siapa yang dapat melindungi perempuan..!” jawabku dengan tegas
        Mendengar jawabanku, dia terdiam seakan membenarkan..
“Hmmm, baiklah..” Rifki sambil manggut-manggut
“Baik, sebelum saya panggil panitia perempuan masuk. saya akan bertanya satu hal, Apa yang melatar belakangi kamu ikut dalam ajang pencarian bakat mengenai jurnalistik?” Rifki
“Satu, saya ingin belajar  mengabaikan perasaan diri sendiri untuk masyarkat, intinya bukan karna materi bukan ingin terkenal tetapi lebih ke pengabdian..!” Aku menyakinkan Rifki
“Baiklah, jawabanmu menyakinkanku,  kamu, LULUS..!”Rifki tersenyum, ia sambil melayangkan tangannya untuk berjabat tangan
‘Afwan pa, terima kasih banyak..” Aku hanya menyalami tanpa berjabat sambil sedikit membungkukan kepala
Muka Rifki terlihat malu karena tangannya tak disambut.
“Yah sama-sama...?” Rifki dengan senyum memaksa
“Terimaksih pak, terimakasih..” Aku mengulang-ngulang ucapkan terima kasih sambil  melepaskan senyuman termanisku. Itulah asal mula ia tertarik kepadaku.
        Setelah kejadian itu, ia berani mengantarkanku pulang, memberiku coklat, mengirim bunga kerumah. Kesan kedua bersama almarhum.Waktu itu saat pertama kali ia mengajak pulang bersama.
        Saat itu selepas trainer, aku harus segera pulang sebelum magrib. Kalau tidak aku akan buka puasa dijalan. Waktu itu, saat menunggu taxi, tiba-tiba ada mobil mewah berhenti tepat didepanku, lalu aku bergeser, mobil itu kembali berjalan dan berhenti tepat di depanku “Nih orang mau nyulik apa yah..” dalam hati aku membatin.
Tiba-tiba kaca mobil itu terbuka” Din..?” Panggilannya lembut
“Astagfirullahaladzim..Bpk. Rifki..” Dalam hati
“Iya pa, maaf  saya kira bukan bapak..” Aku sedikit tidak enak..
“Mari saya antarkan pulang..?” Rifki menawariku..
“Tidakk usah pa..” jawabku menggantung..
“Kamu tidak bisa menolakku, di mobilku ada asistenku dia perempuan, mari pulang bersama..”Rifki kembali menawariku
Aku  melihat tapi tidak ada sosok  perempuan dimobilnya. Seketika pria yang duduk didepan bersama supir menoleh,
“Saya perempuan mbak, casingnya seperti lelaki yah..” ia tersenyum sambil mengulurkan tangan
“Panggil saja aku mbak Rany..” Ia begitu ramah
“Oh maaf mbak..” Dina langsung menaiki mobil dan duduk di belakang supir bersebelahan dengan Rifki.
“Ayo pa jalan..” Rifki
“Jangan dulu pa..” Aku sedikit tak nyaman
“Kenapa, ada yang tertinggal..?” Tanya Rifki sedikit panik
“Tidak ada, cumannnn.. bapak tidak  pindah ke depan bertukaran dengan mbak Rany..” Aku nyengir
“Ohhh, baiklah dina, maaf.. “Ia tersenyum sedikit terpaksa..
        Suasana didalam  mobil sangat hening, seketika dipecahkan oleh suara adzan magrib dari HPku. Lantas suara Adzan itu, aku  mulai angkat bicara.
“Mbak rany, apakah dimobil ada air ..?” Dina menanyakan pada asisten Rifki
“Tidak ada mbak..”Asisten Rifki
Tiba-tiba Rifki menawariku “ Kamu haus, minum saja punyaku, tidak apa-apa..” Ia sambil menyodorkan air yang berada di botol
“Terima kasih..pa” Jawabku
        Lalu sebelum membatalkan puasa aku membaca doa tanpa bersuara. Kulihat Rifki mengintip dari kaca.
“Oh kamu puasa..?” Tanya Rifki
“Iya pa..”
“Baiklah kalau begitu nanti kita makan terlebih dahulu..”
“Tidak usah pa, langsung pulang aja..” Aku merasa tak enak
“Saya lapar, cuma sebentar..” Rifki mencari alasan
        Lalu mereka turun dirumah makan sunda, Dina dan asisten Rifki beranjak duduk sedangkan Rifki memesan makanan. Saat menunggu Rifki, tiba-tiba asistenya mengajaknya mengobrol.
“Sudah lama lho bapak tidak seperti ini, semenjak ditinggalkan oleh tunangannya yang bekerja diluar negeri..!” Rany dengan gaya lelaki
“Ohh.. saya tidak mengerti mba, maksud mbak..?
        Namun pembicaraanya tidak diteruskan karena Rifki keburu datang. Dari situ aku belum pernah bertemu lagi dengan mbak rany, belum sempat kutanyakan. Sekarang keadaanya sedang kritis. Ini benar-benar membuatku bingung.
        Terakhir ku berkomunikasi denganya, malam sekitar pukul tujuh malam lebih sedikit. Lantas sekitar jam dua pagi ia pergi untuk selamanya karena kecelakan mobil.
        Waktu itu aku merasa risih melihat kelakuan Rifki, Kali ini aku mengcut Rifki bukan di telpon, tetapi langsung didepannya.
“Apa maksud semua itu, pa..?” Aku memberanikan diri ‘tuk bertanya
“Maksud apa din..?” Rifki tersenyum
“Mengirimkan bunga setiap pagi, mengirimi coklat 12 kali..hmmm salah 14 kali..!” Aku sambil mengingat-ingat
“Memang kenapa..?” Rifki tersenyum  menyebalkan
“Bukankah itu hanya dilakukan seorang pria untuk kekasihnya.. ?” Aku dibuat kesal  olehnya
“Benar, tapi bagi saya tidak..!,  memberi coklat dan bunga bukan hanya untuk kekasih, tetapi orang terkasih seperti orang tua saudara, teman, sahabat, rekan bisnis..” jawab Rifki
“Hmm, lantas kamu memberikanku  karna aku siapa..!”
“Hmmm, aku juga bingung..” Rifki tersenyum dan langsung pergi begitu saja
        Melihat kelakuannya aku benar-benar kesal. Akhirnya  ku putuskan untuk mengembalikan bunga dan coklat kepadanya. Dan aku berjanji, tidak akan mengangkat telpon dari Rifki. Beberapa hari Rifki menghubungiku, sms dan telepon namun tidak  aku gubris. Di tempat trainer pun Rifki sulit menemuiku.

Saat ingat itu tangisanku pecah. Pikirku tiada 'kan menanti jika ada kata, setidaknya pembenarannya  aku pegang lalu dijajaki dalam hati meski melakukaknya seperti mencabuti duri dalam dingding hati.

"Bukan tanpa kata, bukan tanpa kata! " dalam batinku sambil menahan tangis

Semua hanya ciptakan keperihan yg tak berarti. Dapatkah berpeluh kesah keperihanku.
 "Bukan tak dapat.., melainkan aku bukan siapa-siapa, aku tak mengerti..!" Aku kembali bersenandung dalam hati

Pesan terakhir darinya, saat itu berisi…

“Din, jangan seperti ini, bersikaplah baik dengannku, baiklah aku berjanji akan berbicara jujur, tapi tidak sekarang ..” isi pesan Rifki
        Sesekali aku mengusap air mata yang keluar yang tak dapat kutahan-tahan. Almarhum mulai diangkat dengan kreta kencana ‘tuk menghadap Ilahi. Saat suara tahlil meliuk-liuk menghantarkan almarhum dikebumikan. Aku benar-benar tak kuat berdiri. Setelahnya kuputuskan untuk pulang kerumah
*****
           Ada suara detik jam berkrik-krik. Sayup-sayup terdengar jama’ah masjid bersenandung shalawat Nabi, lembut melunakkan hati. Sekejap aku ingat sedang duduk diruang tengah, rupannya pikiranku lalu lalang aku masih dengan tanya yang mengganjal dalam hati. Mengenai arti sebuah sikap seseorang. Setelah hampir dua bulan atas perginya Rifki, tanya itu masih tetap bertepi.
        Senandung shalawat Nabi kian menghilang. Jama’ah masjid dekat rumahku  t’lah pulang ke rumah masing-masing. Aku seperti kembali dalam keheningan, diam dan sepi. Memandangi foto Rifki, Lelaki yang t’lah menemui kematian dua bulan lalu.

        Jam berapakah sekarang..? pikirku. Kuperhatikan jam dinding yang berkrik cukup berisik. Pukul Lima pagi lebih sedikit. Aku belum shalat shubuh. Seketika Foto Rifki yang berada di meja terjatuh ke lantai, menyadarkan aku untuk beranjak  menunaikan shalat shubuh. Dalam shalat aku menangis, aku berada dalam tidak kekhusyukan.
“Astagfirullahaladzim…” Aku membatin, sambil menangisi apa yang terjadi. Aku kembali berdiri untuk shalat, namun beberapa kali aku menangis dan entah untuk keberapa kali  aku berdiri dari tangisanku. Akhirnya shalat shubuh pun bisa kudirikan.
        Hari ini aku kembali bertarung dalam mimpi seorang perempuan. Kali ini kegiatan  satu bulan ke depan trainer sebelum tahap ujian menjadi presenter berita. Mengawali hari yang begitu berat dengan kalimat basamalah.
“Bismilahirahmanirahim, mudahkalah urusanku ya Rabb..” Aku bersenandung dalam hati dengan senyuman yang sedikit memaksa.
Saat membuka pintu, aku melihat sosok perempuan berjilbab mengenakan kursi roda. Aku seperti mengenali perempuan itu, namun aku benar-benar tak ingat. Lalu aku hanya mengucapkan salam dan senyum untuk perempuan berjilbab itu.
“Assalamualaikum..” Aku sambil tersenyum
Lalu perempuan itu, memanggilku nampaknya ia mengenaliku..
“Dina..?”
“Ya, kau mengenaliku..?”  Jawabku
Tiba-tiba tangannya langsung merengkuhku dan memelukku dengan erat, perempuan itu menangis. Aku hanya bingung karena  tak tahu siapa perempuan ini.
“Aku Rany asisten Rifki..” Ia menangis
“Asisten  Rifki, Muhammad Rifki Andhika..?” Aku sontak kaget
“Ia benar, din..” Ia sambil melepas tangannya dari pundakku
“Kau memakai jilbab..?” Aku tak percaya atas perubahan yang terjadi pada asisten Rifki
“Apa yang terjadi, ceritalah, bagaimana semua ini terjadi mba..? Aku sambil mengusap air matanya
“ Waktu itu sekitar pukul setengah dua belas malam, kejadianya begitu cepat sekali. semanjak mengantarkan kamu pulang mas Rifki yang biasa duduk di belakang sekarang lebih menyukai duduk di depan samping sopir, sempat aku tanya kenapa, ia hanya bilang menjaga, saat kejadian mas Rifki tertidur..begitulah keajadiannya..” Rany sambil menangis
“Ia sempat kritis selama dua jam, namun nyawanya tak tertolong..” Pungkas Rany
Mendengarnya aku hanya bisa menangis, lantas Rany memberi sebuah buku diary berwarna merah kepadaku..
“Kau pasti mencari tahu mengenai Rifki, bacalah buku diary ini, semua jawabannya ada disini..” Rany tersenyum mencoba menguatkanku
“Terima kasih mbak..” Aku memeluknya erat
 “Kamu jangan pernah menyesalinya, ia lelaki yang baik, sebelum bertemu kamu ia jarang tersenyum karena ditinggal oleh tunangannya yang bekerja diluar negeri. Ia lebih menyukai menulis tentang kamu dari pada mengungkapkanya. Ia ingat apa yang kamu katakan dulu yaitu takut dan malu. Pikirnya takut dan malu bukan hanya perempuan yang harus memiliki rasa itu tetapi lelaki juga penting. Takut dan malu dalam pengertian takut dan malu kepada Allah bukan yang lain. Terakhir ia mengatakan kepadanku baru kali ini ia mencintai seseorang dengan menjaga dan menghormatinya dan rasanya sangat membahagiakan.. itu ia yang katakan kepadaku..” Rany menjelaskan
Mendengar semua penjelasan Rany, aku merasa lega dan bahagia.
*****






        Perlahan ku buka diary itu, lembar pertama berisikan “ Selamat datang bidadariku, sudah lama kau menunggu hari ini..?” Muhammad Rifki Andhika. Aku hanya bisa menangis dan tersenyum membacanya.
                                    Puisi Muhammad Rifki Andhika :
“Tiada dimengerti kecuali mengenaliku dalam keheningan
Dalam diamku “kan  terdengar bias-bias kerinduan
Aku ‘kan selamanya menanti panjang, peraduan..!
Peraduan antara  kata mencintai dan kepemilikan.

Biarlah kumenanti panjang, menunggumu.
Kodratku tiada upaya kepemilikan kecuali penitipan.
Aku punya rasa yang dititipkan Tuhan.
Kujaga, bukan ku jajahi lalu menyalahimu..

Biarlah kumenanti panjang, menunggumu.
Janganlah kau pecahkan semua dengan inginmu
Bukan memberiku tempat nyata,tapi semu..!
Singkap gundahmu, ku menanti bersama cinta Tuhan.

Menantimu, bukan hanya menunggu Matahari kembali
Bukan hanya menunggu rembulan dan bintang pada malam hari
Melainkan, aku menantimu menemani pagi, sampai malam-malam
Tak perlu khawatir, Aku menantimu bersama cinta Tuhan.

Meski Matahari datang, Panas!
Aku akan sedikit berpengarah..
Tuhan akan menitipkan kesegaran, sesekali..sesekali
Lalu Tuhan ‘kan turunkan hujan, untuk menguatkanku lagi..
Lalu, seterusnya seperti itu,biarlah ku menanti panjang, menunggumu bersama cinta Tuhan….”.Muhammad Rifki Andhika





Puisi Muhammad Rifki Andhika :

Malam-malam gelap berganti pagi-pagi menyegarkan
Menunggu matahari, sampai ia tak datang lagi
menunggu hujan, sampai ia tak bergermecik lagi
Menunggu rembulan, sampai ia bosan menemui malam
Menunggu bintang-bintang, sampai ia tak lagi berkelip
Menunggu, daun tubuh kembali sampai ia gugur bertebaran..
Menunggu, Angin sampai ia tak kuasa beri kesegaran…
Menunggu, Bunga mekar sekejap layu, lalu punah
Menunggu,  aku akan menunggumu laiknya semua itu, perempuanku..!


" Ia matahariku..!", aku yakin. "Ia matahariku setiap hari tersenyum..!" Penyempurnaan dari semua rasa yg khawatir, takut, sampai sebuah pengakuan. Dan pagi ini seperti dipecahkan, menahan tangis, merajut mimpi atau ke egoisanku " dia tetap matahariku.." sampai kapan pun ia Matahariku.." Aku akan menunggu matahariku tersenyum kembali di syurga-Mu

Khaisha Khanza

Oleh : Aisyah Asafid Abdullah         


            Aku berharap engkau bisa membaca cerita ini, sahabatku, tentu keadaan setiap harinya berbeda. Sekarang, besok  dan nanti kita takkan tahu keadaan yang kita lalui itu seperti apa.  Mungkin engkau pada saat itu akan menjadi orang terhormat, disegani semua orang atau sebaliknya. Semua itu tak penting, yang terpenting bagaimana engkau menjalani hari ini. Sudah baikkah atau belum? Jawabanya simpan dalam hatimu, yang menentukan hari esok adalah jawabanmu hari ini.


            Sahabatku, aku yakin permasalahanmu tak sama lagi denganku. Mungkin hari ini aku bisa menyuarakan mengenai hijab. Tapi aku yakin saat engkau membaca cerita ini, engkau tidak bisa memakai jilbab sebebas zamanku dulu. Bukan karena seorang pemimpin yang tidak amanah, ‘kan tetapi masa itu orang malu mengenakan jilbab dianggap kuno. Bukan itu saja, hari ini aku bisa memakan nasi sehari tiga kali, mungkin hari itu engkau tak makan nasi, yang engkau makan ubi jalar, singkong atau kentang. Dan saat engkau membaca ini keadilan sulit didapatkan bukan hanya karna seorang pemimpin yang rakus melainkan orang-orang pada saat itu kufur nikmat.


            Sahabatku waktu itu selepas shalat ied aku mencoba bersilaturahim dengan jama’ah lain meski kutak mengenali mereka. Aku memberanikan diri melakukannya. Tahukah engkau, awal yang baik itu berakhir baik. Aku bertemu sahabat kecilku dulu.


Tahukah engkau, Larut malam aku baru bisa menuliskan cerita ini untukmu, sahabatku. Setelah seharian aku lalu lalang disibukan beberapa tugas kesadaran, maklum aku anak pertama selain mengerjakan tugas kuliahku. Aku harus mengerjakan beberapa tugas rumah seperti memasak, merapikan baju hasil setrikaan bibiku, menyuapi adikku yang baru berusia dua tahun belum lagi keluar ke ATM untuk mentransfer kolega-kolega mamaku. Aku benar benar sibuk sampai malam ini kubisa menuliskan cerita untukmu.


            Begini ceritanya, nama sahabatku itu Khaisha Khanza, ia sahabat kecilku dari TK. Saat SD sempat mengenyam pendidikan bersama namun setelah lulus aku tak tahu ia melanjutkan sekolah kemana.

            Ingatanku masih terngiang-ngiang mengenai kepribadian Khaisha Khanza ia anak yang manis, periang, cerdas, baik, dan penurut. Kesan perfect untuk ukuran seorang anak SD. Mengingat tentang dia, Aku masih menemukan senyuman manisnya. Sebuah senyuman khas terdapat sebuah ketulusan. Angan-anganku saat ia nyengir..(kelihatan gigi ompongnya..)
           
            Sahabatku, engkau jangan berpaling dulu dari ceritaku ini. Ini benar cerita sederhana kisah anak manusia. Kisah Kaisha Kanza, seorang sahabat yang terkesan baik dimataku, sungguh luar biasa. 
Pada waktu itu aku adalah teman akrab Khaisha Kanza. Kemana-mana selalu dengannya, kala itu musim hujan, kami  mencari jamur jerami di sawah-sawah, bersepeda, main karet, manjat pohon kresem, membuat gubuk di sawah, bermain ketoprak. 

Sahabatku, ada satu hal yang paling berkesan dari Khaisha Khanza. Saat itu ketika kami masih duduk di bangku kelas dua SD, aku belajar kejujuran dari Khaisha Khanza. Ketika itu jika dalam satu hari aku berbohong atau mengucapkan salah satu isi kebun binatang. Aku harus mengakuinya  di depan Khaisha Khanza, aku pun mendapatkan hukuman yaitu berupa cubitan atau pukulan kecil begitu juga sebaliknya jika Khaisha Khanza berbohong, aku pun menghukumnya.

Sebuah kesepakatan seorang sahabat yang baik. Untuk ukuran seusianya, ia mengajari aku sebuah kejujuran, komitmen, dan ketegasan. Dan ia gadis yang cantik, berambut lurus panjang sebahu, hidung mancung berbentuk jambu, kulit coklat sawo matang. Selain itu ia anak dari keluarga yang berkecukupan sepertinya semua di milikinya, dia begitu sempurna sahabatku. Itulah kaca mata masa kanakku dulu, sahabatku..

Sahabatku, tahukah engkau delapan tahun aku terpisah dengan Khaisha Khanza. Hari ini aku bertemu dengan Khaisha Khanza. Usiaku sekarang dua puluh satu tahun, tidak pernah kuduga namun telah terjadi itulah takdir.

Saat itu aku dalam sebuah masjid besar di Jakarta utara masjid Jakarta Islamic Centre, setelah menunaikan shalat ied. Aku bersilaturohim menyalami jama’ah beberapa shaf dari shaf dimana aku shalat. shaf kedua dari shafku aku menemukan sosok yang belum beranjak dari sajadahnya. Aku menghampirinya hendak memberi salam. Sosok itu pernah kulihat dulu meski keadaan fisiknya berubah namun bisa ku kenali itu, ia adalah sahabatku Khaisha Khanza.

Setelah menyalaminya, aku benar-benar memandang terkejut seperti mimpi bertemu dengan sahabat lama. Maklum aku sudah lama hijrah ke Jakarta semenjak SMP. Ia pun menatap aneh terhadapku seakan ia pun lupa.
“Engkaukah ini sahabatku, Khanza..?” Aku dengan girang
“Iya…” jawabnya menggantung, sepertinya ia masih belum ingat denganku
“Ini aku Rahmadona, sahabat kecilmu dulu..?!” Aku menjelaskan
“Rahmadona, engkaukah itu..?” Ia sontak kaget, reflek memelukku dengan erat
“Iya..” jawabku
“Engkau sendiri sahababtku..?” tanyaku
“Aku bersama ibuku..” jawabnya sambil matanya mencari sosok ibunya
“Kemana ibumu..?” tanyaku kembali
“Mengambil seseuatu dimobil, na. Tunggu sebentar yaa…?” Pungkasnya sedikit cemas
“Bagaimana kalau kita menyusul ibumu ke mobil..?” Aku mencoba memberi saran
“Tidak na, aku tak mampu..!” Jawabnya menggantung
“Apa maksudmu..?” tanyaku heran

Ia tak menjawab, bibirnya hanya menorehkan senyuman yang sedikit memaksa. Tiba-tiba ibunya datang ditemanin satpam masjid. Tahukah engkau sahabatku, ibunya mengambil apa dari mobil. Ia mengambil sebuah kursi roda. Pikirku tak sampai kemana-mana, bingung kursi roda itu milik siapa. Aku segera beranjak dan menyalami ibunya,

“Assalamualaikum, ibu masih ingat tidak dengan aku, Rahmadona temen Khanza SD dulu?” Aku sumringah
“Rahmadona, kaukah ini…kau sudah menjadi gadis..?” Ia tak percaya
“Iya bu, untuk siapa kursi roda ini bu..?” Aku memberanikan bertanya
Ia tak menjawab, ia hanya menangis.
“Maafkan aku bu, aku tak bermaksud membuatmu sedih..” Aku berusaha menenangkannya sambil memeluknya erat. Setelah kondisi ibu sedikit tenang. Khanza angkat bicara
“Sudah bu jangan sedih..” Khanza tersenyum tanpa beban
“Bantu aku na, aku tak mampu..” Khanza menyuruhku membantunya
Mendengar Khaisha Khanza berbicara seperti itu, nalarku mulai berpengarah sontak kaget.
“Khanza…, kursi roda ini…, Khanza  ini milikmu…!” Aku masih tak percaya
Ia hanya melemparkan senyum seakan tidak terjadi apa-apa.
“Tidak, tidak khanza katakan tidak ini bukan milikmu…!” tangisanku pecah, tak percaya apa yang terjadi pada sahabatku

Ia menganggukan kepalanya, aku langsung mendekapnya memeluknya dengan erat. Benar-benar hatinya seperti baja. Raut wajahnya yang cantik tak memancarkan kesedihan sedikitpun. Ia benar-benar dianugrahi Allah hati berlapis baja, senyumnya senantiasa terlempar manis penuh keikhlasan.

Begitu ceritanya sahabatku, kita tidak bisa menjamin hidup kita ke depan seperti apa. Mungkin Engkau bisa merencanakan sesuatu namun tidak ada yang menjamin rencana hidup seseorang kecuali Allah SWT. Tahukah Engkau sahabatku, Khaisha Khanza lumpuh karena dua kakinya terdapat tumor tulang. Ia lumpuh sudah setahun, tidak bisa berjalan.

Tidak hanya itu, beberapa tetangganya memvonisnya karna dijampi-jampi. Namun benar Allah memberi ujian tidak melebihi batas kemampuan kita. Ia begitu kuat menjalani hidupnya. Jadi Engkau jangan pernah berfikir Allah tak adil, merasa kamu tak mampu menyelesaikan masalahmu. Yakinlah, mulailah menyelesaikan masalahmu dengan bismillah, ikhlas, sabar. Insya Allah masalah seberat apapun akan terselesaikan. Yakinlah “Man jada wa jada…”