Sabtu, 14 Maret 2015

SIAPA SAHABAT?

By : Muhammad Valdy Nur Fattah






       Siapa sahabat itu sebenarnya? Yang seperti apa kriteria seorang sahabat itu? Apakah dia orang yang selalu ada untuk kita, atau dia orang yang selalu setia bersama kita dalam setiap keadaan? Semua pasti memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan siapa yang pantas menjadi sahabatnya. Seperti persahabatanku dengan Fadhil, sahabatku semenjak aku kecil dahulu. Namun, kisah persahabatan kami tak seindah kisah persahabatan yang lain. Mungkin ada baiknya aku menceritakan kisah persahabatan kami ini.
       Kisah ini dimulai dari masa kami SMA. Seperti biasa kami berada di kelas yang sama. Sedari SD dulu kami tidak pernah berpisah sekolah, bahkan kelas kami pun selalu sama. Sampai-sampai ada beberapa teman kami yang mengatakan kami ini adalah sepasang gay[1] yang memakai seragam sekolah. Betapa piciknya pandangan mereka menilai persahabatan kami. Tapi bukan itu yang menjadi masalah dalam hubungan persahabatan antara aku dengan Fadhil.
       Saat itu guru-guru di sekolah sedang mengadakan rapat sehingga semua siswa-siswi di kelas menganggur. Aku punya ide untuk kabur dari sekolah dan pulang ke rumah lebih awal sebagaimana anak-anak muda saat itu. Kebetulan aku dan Fadhil sama-sama memiliki keahlian parkour[2] sehingga dapat menjadi andalan kami untuk kabur tanpa bisa ditangkap oleh petugas keamanan sekolah. Lalu aku menghampiri Fadhil dan mengajaknya untuk kabur lewat gerbang belakang sekolah.
       "Fadhil, kita kabur yuk mumpung guru-guru lagi pada rapat. Lewat pintu belakang aja. Dengan kemampuan parkour kita, pasti kita bisa melompati gerbang belakang sekolah yang tinggi itu." pintaku.
       "Rizal, itu bukan tindakan yang baik. Ini bukan jam kita untuk pulang. Sebaiknya kita menunggu dulu di sini sampai para guru selesai rapat. Jika mereka telah mengizinkan kita pulang, kita bisa pulang tanpa repot-repot melewati gerbang belakang sekolah lagi. Apa lu gak inget kata guru agama kita? Dulu para ulama salaf seperti Imam Bukhari ataupun Imam Syafi'i sampai rela menempuh perjalanan ratusan mil dalam beberapa bulan hanya demi menuntut ilmu. Apa kita gak mau ikut jejak mereka dengan rajin menuntut ilmu? Mending kita belajar bersama-sama saja di sini daripada pulang ke rumah." nasihat Fadhil.

       "Ah ceramah aja lu. Pengang juga nih kuping gua denger celotehan sok ustadz lu itu!" ucapku.
       "Bukan sok menggurui begitu, tapi gua cuma pengen agar kita bisa melakukan hal-hal yang terbaik aja daripada yang gak ada manfaatnya. Kasihan kan orang tua kita biayain sekolah mahal-mahal, kita malah membalasnya dengan bolos sekolah," khutbah lanjutan si Fadhil.
       Namun, kala itu aku bersikeras ingin pulang dan kabur lewat gerbang belakang. Aku pun memalingkan wajahku dari Fadhil. Aku mengetahui Fadhil menatapku dengan kecewa saat aku memutuskan untuk pergi sendiri. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin pulang. Toh diriku tidak merugikan siapa pun. Aku melompat dari lantai atas sekolah ke bawah dengan menuruni sebuah tangki air. Tangki air itu tidak terlalu dekat dengan balkon sehingga aku harus melompat untuk menggapainya. Untung saja aku punya keahlian parkour sehingga aku terbantu. Saat aku telah berada di bawah, aku mendongakkan kepala dan kulihat Fadhil sedang melongok ke bawah melihatku. Aku kesal sekali dengannya karena dia tidak mau mendengarkan aku. Aku langsung berlari ke belakang sekolah.
       Saat berlari ke belakang, dua orang petugas keamanan memergoki aku. Dengan kaget, aku berlari lagi menjauhi mereka. Keduanya mengejarku. Aku berlari ke arah sebuah selokan besar di belakang sekolah yang memisahkan antara lapangan dan gedung sekolahan. Dua petugas yang sedang mengejarku pun berhenti. Mereka mengira aku sudah tersudut dan tak mungkin bisa ke mana-mana karena selokan itu penuh air dan jarak antar dindingnya cukup jauh. Saat mereka mulai berpikir aku sudah menyerah, mereka mendekatiku. Namun, aku langsung melompat sejauh mungkin melewati selokan itu dan tanganku berhasil meraih dinding selokan di seberang hingga kakiku hampir terpeleset jatuh ke selokan. Beruntung, dengan sekali hentakan kakiku, aku bisa melompat ke atas dan kini aku telah berada di seberang. Para petugas itu pun kebingungan dan tampak heran, keduanya saling berpandangan. Keduanya tak bisa melewati selokan tersebut dan mereka berlari untuk mencari jalan berputar. Saat itu, aku langsung berlari lagi menuju gerbang belakang sekolah.
       Aku sudah dekat dengan gerbang belakang. Tiba-tiba, seseorang melompat dan menghadang di hadapanku. Aku terkejut karena itu Fadhil. Dia mengejarku dengan kemampuan parkour-nya yang setara denganku.
       "Zal, jangan lari! Sebaiknya lu kembali ke kelas kita aja! Tidak ada gunanya lu kabur dari sini, gak akan ada manfaatnya. Mending kita belajar bareng aja kayak biasanya," ujar Fadhil padaku.
       "Ahh... udah bosen belajar melulu. Saatnya kita seneng-seneng, kita ini udah SMA Dhil ... bukan anak-anak lagi. Kalau lu gak mau ikut, jangan halangi gua, minggir!" pintaku.
       Aku mencoba bergerak menuju gerbang. Akan tetapi Fadhil menahan tanganku. Aku menepisnya, namun ia tetap mengikutiku dan menarik lenganku. Aku berusaha melepaskan diri. Sementara itu, dua petugas tadi sudah berada di dekatku. Aku mencoba terus memberontak agar Fadhil melepas cengkeramannya dari lenganku. Tapi sungguh kuat cengkaramannya. Fadhil memang lebih kuat dariku sejak dulu.
       Tapi tiba-tiba seseorang menendang Fadhil hingga terjatuh dan akhirnya lenganku pun bebas dari genggamannya. Ternyata Fairuz yang menendang Fadhil.
       "Cepat kabur! Aku yang akan menjaga dari sini." teriak Fairuz padaku. Aku pun menatapnya, mata Fairuz serius. Aku langsung berlari ke gerbang dan hap ... happ ... aku berhasil melompati gerbang itu. Aku melihat dari celah gerbang, para petugas itu menangkap Fairuz dan kulihat Fairuz tersenyum kepadaku seraya mengacungkan jempolnya. Aku pun tersenyum balik kepadanya. Aku melihat roman kecewa di wajah Fadhil saat itu. Aku tak mempedulikannya.
       Berselang beberapa hari setelah itu, aku mendapat hukuman dari pihak sekolah. Aku kecewa, Fadhil sama sekali tidak membelaku. Malah Fairuz yang menyemangatiku saat itu. Fairuz bilang, "Sabar saja kawan, kita kan gak akan lama berada di sini. Dunia bebas di luar sana masih menantikan kita. Gua akan ada untuk lu!" Aku terharu mendengarnya, inilah sosok sahabat sejati yang selalu ada untuk kita. Semenjak itu, aku dan Fairuz menjadi sahabat. Aku mulai menjauh dari Fadhil.
       Suatu hari, aku melakukan hal yang sama dan kini dibantu oleh Fairuz. Lagi-lagi Fadhil hadir di antara kami dan kembali mencegah diriku untuk kabur dari sekolah. Akhirnya aku ketahuan dan berhasil ditangkap oleh petugas sekolah lalu aku di-skorsing selama sepekan karena kejadian itu. Aku amat marah pada Fadhil yang mencoba menghalang-halangiku hingga akhirnya aku ketahuan dan terkena hukuman.
       Aku marah pada Fadhil. Aku menghampirinya saat pulang sekolah. Aku mengeluarkan sebuah pin parkour tanda persahabatan kami dan meletakkannya ke tangan Fadhil. Fadhil tertegun dan menatap ke arahku. "Kenapa lu kasih pin ini ke gua? Ini kan punya lu, Zal!" tanyanya. "Anggap saja kita gak pernah bersahabat. Gua udah gak tahan karena lu yang gak pernah merasa empati lagi sama gua, kita akhiri hubungan persahabatan kita selama ini. Lupakan semua masa lalu kita, gua udah punya sahabat lain yang lebih mengerti tentang gua, terima kasih atas semuanya!" lalu aku pun pergi ke arah Fairuz yang tersenyum melihatku. Kami pun berlalu meninggalkan Fadhil sendirian. Tanpa terasa air mataku mengalir juga, begitu pula dengan air mata Fadhil yang turut menetes.

*****

       Waktu telah berlalu, zaman telah berubah, seragam kami pun telah berganti. Dulu kami berseragam sekolah, kini aku berseragam hitam-hitam sementara Fadhil telah berganti kostum polisi. Tapi sejak hubungan persahabatan kami tidak berlanjut, aku juga sudah tidak tahu persis bagaimana kabarnya. Aku hanya tahu kini dia menjadi seorang polisi dari tweet di twitter-nya.
       Malam ini adalah saatnya aku menjalankan tugas dengan segala perlengkapan kerjaku. Aku senang bisa menyalurkan bakat parkour-ku untuk mencari nafkah, di luar pendapat sebagian orang tentang halal dan haramnya pekerjaanku. Tapi setidaknya, hasil dari pekerjaanku ini lumayan besar juga. Cukuplah untuk hidup layak di kehidupan metropolitan seperti ini.
       Aku telah siap menunaikan kewajibanku malam ini. Semua peralatan untuk bekerja telah kubawa di ransel kerjaku. Beberapa menit kemudian, aku dipanggil oleh bos agar disuruh menemui dia untuk meeting di tempat yang telah ditentukan.
       Hanya sekitar 30 menit, aku telah tiba di tempat yang disepakati oleh kami bersama. Selain bos, ada seorang lagi yang bersama dengannya dan ikut menungguku. Orang tersebut tak lain adalah sahabatku, Fairuz. Bos memberikan briefing sebelum kami melakukan tugas dan pekerjaan kami agar semua bisa berjalan lancar sesuai rencana.
       Selama beberapa tahun terakhir ini, aku melatih Fairuz untuk belajar parkour agar kami bisa saling bekerja sama dalam menunaikan tugas dengan lebih baik. Kini kami bukan lagi sekedar sahabat yang seia sekata, tapi juga partner kerja yang kompak.
       Setelah mendapat pengarahan dari bos sekarang kami telah siap untuk bekerja. Aku dan Fairuz segera mendekati tempat kerja kami. Aku melepaskan dan membuka ranselku lalu mengeluarkan isinya, yakni sebuah tali fiber yang amat kuat. Aku memberikan tali itu kepada Fairuz. Fairuz lalu melempar tali itu ke atas sebuah pagar baja di hadapan kami. Setelah memastikan tali itu terpasang dengan kuat, aku pun melompat dengan lihai untuk menggapai tali tersebut. Aku memanjat dinding baja tersebut. Sesampainya di atas, Fairuz ikut meraih tali dan memanjat. Saat mendekati atas, aku membantunya naik. Kami berdua kemudian melompat-lompat menuju ke arah sebuah gedung. Aku mengambil sebuah alat pengganggu sinyal di ransel dan menempelkannya di sebuah kamera CCTV[3] yang ada di dekat kami. Setelah dipasang, semua kamera CCTV yang ada di gedung pun menjadi kehilangan jaringan. Saat itulah, aku dan Fairuz melompat ke jendela. Fairuz mengeluarkan alat pelubang kaca jendela berteknologi tinggi dari ransel kerjanya. Kami juga tak lupa untuk memasang masker penutup wajah. Setelah jendela berhasil dilubangi, maka kami berdua masuk secara diam-diam.
       Karena kamera CCTV telah dilumpuhkan, maka kami bisa melenggang dengan nyaman masuk ke gedung tanpa diketahui. Drap ... drapp ... terdengar suara jejak kaki mengenakan sepatu kulit akan melintasi lorong yang kami lewati. Fairuz mendangakkan kepala dan melihat sebuah lubang ventilasi dan menarik bajuku untuk memberitahukan hal itu. Aku ikut melihat. Dengan bantuan Fairuz, aku menaiki pundaknya dan berhasil membuka ventilasi. Aku masuk ke ventilasi. Suara derap langkah kaki orang itu semakin mendekat. Fairuz melompat ke dinding yang mengapitnya di kanan dan kiri lalu berhasil meraih tepian ventilasi lalu segera masuk ke dalamnya. Tak lama orang yang sedang berjalan itu melewati kami tanpa tahu jikalau kami tengah berada di atas lubang ventilasi.
       Setelah kami melihat bahwa situasi telah aman terkendali, maka aku menghidupkan flashlight[4] yang telah terpasang tepat di sebelah jam tanganku. Sementara itu Fairuz mengambil kertas semacam peta denah ruangan di lantai itu. Jari telunjukku menunjuk pada sebuah titik yang telah diberi tanda warna merah oleh bos. Lalu kami berdua memperkirakan ke mana arah yang harus dituju untuk mencapai ruang tersebut melalui saluran ventilasi di atas ruangan.
       Kami pun berjalan perlahan menuju ke tempat yang telah ditunjukkan oleh denah. Tak berapa lama, kami pun telah sampai berada tepat di atas ruangan tersebut. Aku membuka tutup ventilasi dengan hati-hati. Aku dan Fairuz melongok ke bawah dan melihat ada sebuah brankas dari besi yang berada di tengah-tengah rungan itu. Namun nampak sekali di sekitarnya terdapat sinar-sinar laser yang digunakan untuk melindungi brankas tersebut dari pencuri. Kami berdua mengerti bahwa kami harus berhati-hati agar tak sampai menyentuhnya. Karena salah satu dari anggota tubuh kami menyentuhnya, maka laser itu bisa memotong tubuh kami. Selain itu, laser tersebut merupakan sensor yang dapat memicu alarm untuk berbunyi.
       Aku telah mengikatkan tubuhku pada tali fiber yang kami bawa sebelumnya. Dengan bantuan Fairuz yang memegangi tali tersebut dari atas. Aku pun bergantungan perlahan. Dalam hatiku, aku bergumam, "Ini seakan melakukan aksi di film Mission Impossible. Ini memang impianku semenjak dahulu untuk beraksi seperti ini." Tampak senyumanku menyungging di pipi.
       Di atas, pada lubang ventilasi, Fairuz membantu menurunkanku ke bawah dengan perlahan-lahan sekali. Aku semakin mendekati brankas, namun aku harus berhati-hati dengan sinar laser yang mengerubunginya. Saat itu, aku kebingungan bagaimana cara agar bisa melewati laser. Sementara itu Fairuz mengecek jam tangannya dan juga alat pelacak gerakan di sekitar ruangan tersebut. Ada beberapa gerakan yang sedang menuju ke tempat kami. Fairuz mulai panik dan pegangannya semakin mengendor. Aku pun terkejut merasa semakin turun ke bawah, padahal hanya dalam jarak hitungan senti saja, kakiku bisa hilang jika tersentuh sinar laser. Aku menatap ke Fairuz dan tampak ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan tali tersebut dan menariknya dengan alat yang telah terpasang di bagian tengah tali. Awalnya tali itu perlahan tertarik ke atas. Namun karena tangannya, tali itu lepas dan kembali menurun. Tubuhku melesat ke bawah. Untungnya ketika kakiku hampir menyentuh laser, Fairuz berhasil menahan tali itu dengan alatnya. Hufff... hampir saja!
       Aku memutuskan untuk berayun pelan ke depan dan ke belakang untuk meraih sebuah pegangan di dinding ruangan. Setelah beberapa lama aku berayun, aku berhasil memegang sebuah lengkungan-lengkungan horizontal di dinding. Aku pun menapakkan kakiku ke sudut lengkungan yang ada di bawah kakiku. Dari situ aku melompat dengan sangat hati-hati menuju ke tombol-tombol yang dapat mematikan sinar laser itu. Tombol-tombol itu ada di pinggir-pinggir ruangan. Dengan kelenturan dan kelincahanku, aku berhasil mematikannya satu per satu. Hampir semua laser telah kumatikan, hanya tinggal satu yang tersisa.
       Fairuz melihat lagi ke alat pelacak gerakannya, tampak seseorang sudah amat dekat dengan pintu masuk ruangan. Fairuz pun panik dan tak sengaja melepaskan tali yang menggantungku. Dengan cepat tubuhku meluncur ke bawah dan sepatu kiriku mengenai laser sedikit dan terbakar. Jantungku terpacu cepat, perasaanku tak karuan. Sedikit lagi aku hampir kehilangan kakiku. Mataku membidik ke arah Fairuz seraya memberi kode kepadanya agar lebih berhati-hati. Fairuz hanya mengangguk pelan mengiyakan.
       Karena tinggal satu laser saja, maka aku mengayunkan tubuh ke bawah dengan mudah. Aku memencet tombol untuk mematikan sinar laser yang tersisa. Aku langsung menuju ke brankas. Tanganku membuka brankas itu dengan membaca kode yang telah diberikan oleh bosku. Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan itu. Aku kaget dan bergegas mengambil permata yang ada di dalam brankas. Aku memberi kode pada Fairuz untuk menarikku ke atas.
       "Hei, jangan lari kalian! Dasar pencuri bejat!" teriak orang tadi sambil berlari keluar untuk mengejar kami yang masih berada di saluran ventilasi di atas.
       Aku dan Fairuz langsung turun dari lubang ventilasi. Baru beberapa detik kami menapakkan kaki kami di lantai, orang yang tadi telah membawa beberpa petugas keamanan gedung untuk menangkap kami. Kami berdua langsung menuju ke jendela. Kami terjang jendela tersebut hingga pecah berantakan. Saat kami berada di luar, tak ada jalan lain. Kami terpojok. Kami lari ke arah jendela yang di sebelahnya lalu turun ke jendela di bawahnya dengan kemampuan parkour kami. Para petugas pun kebingungan. Mereka buru-buru ke bawah dengan lift.
       Di lantai 3, mereka berhasil memergoki kami lagi. Aku dan Fairuz kembali melompati balkon-balkon. Dan saat mereka telah begitu dekat, aku mengarahkan pandanganku ke atap sebuah gedung yang berada di seberang gedung itu. Jarak atap itu dari balkon memang cukup jauh. Para petugas itu semakin dekat dan mereka menganggap kami sudah tersudut. Tetapi aku memberi isyarat kepada Fairuz dan kami berdua pun melompat ke atap gedung di seberang itu. Jemari kami berhasil menangkap tepi dari atap, tapi kami hampir terjatuh. Namun aku dan Fairuz menghentakkan kaki kami dan melompat ke atas. Kami berhasil! Para petugas keamanan hanya tercengang diam tak mampu berbuat apa-apa. Lalu patugas yang lain menelepon polisi untuk meminta bantuan.
       Aku dan Fairuz berlompat-lompat di atas atap itu menjauhi petugas keamanan itu. Hanya dalam hitungan menit, terdengar suara sirine polisi menggaung keras di sekitar kami. Cahaya-cahaya mengitari kami yang masih berada di atas atap gedung. Aku tak peduli, kami terus melanjutkan pelarian kami. Beberapa polisi telah naik ke atas atap gedung dan berteriak memberikan peringatan untuk kami. Kami terus berlari. Kami mendengar suara tembakan ke atas yang keras memberi peringatan kedua, tapi kami tetap tak menggubrisnya.
       Polisi itu mulai mengejar kami dan menembaki kami dari belakang. Tapi kami cukup beruntung dapat terhindar dari tembakan-tembakan itu dengan aksi parkour kami. Seseorang yang tak aku lihat wajahnya, tiba-tiba menahan senjata dari teman polisinya yang lain. Lalu dia berlari mengejar kami dengan kemampuan yang sama (parkour).
       Saat kami melompati gedung, polisi itu pun berhasil melompati gedung juga. Saat kami melakukan salto untuk melewati pipa yang menghalangi, polisi itu juga bisa melakukan dengan sempurna. Aku jadi teringat seseorang yang begitu mahir melakukannya sama sepertiku. Aku jadi penasaran dengan polisi ini. Aku tak berani menghadap ke belakang, khawatir dia membawa senjata dan menembak.
       Akhirnya polisi itu pun bersuara, "Berhenti! Sebelum aku melepaskan tembakan!"
       Aku dan Fairuz pun berhenti sejenak. Aku memutar kepalaku menghadap ke arah polisi itu. Alangkah terkejutnya aku, dugaanku memang benar. Itu memang Fadhil dengan seragam polisi yang lengkap sedang mengacungkan pistolnya ke atas. Tak mau berlama-lama, aku dan Fairuz berlari lagi menghindarinya. Dan desingan peluru pun mulai berderai menuju ke arah kami berdua. Dengan sekuat kemampuanku, aku mencoba terus menghindar dan berlari. Peluru tersebut belum ada yang mengenaiku satu pun. Tetapi ketika aku akan melompati atap lagi, Fadhil telah berada cukup dekat denganku. Fairuz melompat duluan dan telah berhasil mencapai atap seberang. Giliranku untuk melompat, sayang peluru Fadhil menembus daging di kaki kiriku. Darah keluar dari kakiku. Aku pun terjatuh.
       Seketika Fadhil menghampiriku lantas ia membuka penutup wajahku. Fadhil nampaknya kaget dan tak menyangka. Ia tertegun sekali melihatku.
       "Ri... Rizal... E... Elu... Kenapa bisa di sini? Kenapa lu sekarang jadi pencuri seperti ini? Ini kan pekerjaan kotor dan dilarang ALLAH Subhanahu wa Ta'ala? Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." ucap Fadhil kepadaku.
       Aku menimpalinya, "Ahh... masih aja lu sok jadi ustadz, banyak bacot lu! Udah puas kan lu nembak kaki gue?!!"
       "Masya ALLAH, Zal. Gua aja gak tahu kalo ini elu. Maafin gue, tadi gua udah berusaha ngasih peringatan, tapi lu gak mau denger. Terpaksa gua tembak kaki lu! Lu gak apa-apa?" tanya Fadhil dengan sopan dan merasa bersalah padaku.
       "Gak apa-apa gimana? Darah gua aja udah muncrat ke mana-mana! Lu buta apa?!!" kesalku.
       "Baiklah kalau memang lu gak terima, lu bisa gantian nembak gua sekarang! Maafin gua... sahabatku!" ucapnya seraya menyinggahkan pistolnya ke tanganku.
       Aku bingung dengan sikapnya ini. Aku memegang pistolnya dengan penuh emosi. Rasanya ingin langsung aku ledakkan tempurung kepalanya itu. Rasa sakit ini telah merasukiku. Aku tak tahan dengan sakit ini. Aku mengarahkan pistol itu ke Fadhil, tepat di hadapan wajahnya.
       "Jika memang membunuh gua, bisa menghapus dendam lu selama ini. Gua akan serahin kepala gua ini agar bisa leluasa lu tembak. Gua janji gak akan ngalangin lu untuk itu. Tapi sebelum lu ngancurin kepala gua, gua cuma pengen minta satu hal sama lu," pinta Fadhil.
       Aku bingung harus bagaimana, "Apa yang lu mau?"
       "Gua cuma minta agar hati lu mau maafin gua dan tetap nganggap gua sahabat walau banyak perbedaan di antara kita! Bisa gak?" tanya Fadhil lagi.
       Aku cuma mengangguk dengan gugup, tapi tak terasa air mataku mulai meleleh perlahan.
       "Dan ini...," Fadhil sempat ingin mengucap sesuatu sambil tangannya merogoh ke arah kantong di balik bajunya. Aku kaget dan mengira ia menipuku dengan menyembunyikan pistol lain di balik bajunya dan berupaya menembakku. Daripada dia menembakku, sebaiknya aku yang menembaknya duluan. Lalu DUARRR... DUARRR...!!!
Cairan merah kental mengucur di kepala Fadhil. Tubuhnya tergeletak tak berdaya ke tanah. Dia tersungkur bersimbah darah. Sebuah lubang besar menembus tempurungnya. Tanganku gemetar sesaat aku menghempaskan peluru itu ke arah kepala Fadhil. Aku tak menyangka aku bisa menembaknya seperti ini.
       Aku melihat tangan kanannya masih berusaha mengambil sesuatu yang nampaknya pistol dari balik bajunya itu. Saat itu, aku coba meraih tangannya. Penasaran, diriku ingin melihat apa sebenarnya yang ada di balik bajunya itu. Betapa shock diriku saat mengetahui ternyata yang ingin dia keluarkan bukanlah pistol. Sesuatu yang membuatku merinding takut, merasa bersalah, dan bergidik tak percaya. Pin parkour tanda persahabatan kami. Yang pin persahabatan kami yang masih dia simpan sedari dulu. Pin persahabatan yang aku kira adalah pistol, kini telah membuatku kehilangan seorang sahabat lamaku.
       Aku menatap ke arah Fairuz, tapi dia malah diam saja. Sementara itu para polisi yang mendengar suara tembakan itu, kini telah berada di atas dan bersiap menangkapku. Aku hanya bisa diam. Aku memandang Fairuz kembali, tapi kini dia memalingkan wajahnya dariku. Dia lari bersama raselnya yang telah berisi permata hasil curian kami berdua. Fairuz kemudian hilang di kegelapan dengan kemampuan parkour yang ku ajarkan. Polisi langsung membekukku. Aku dibawanya pergi dari situ.
       Aku melihat tajam ke jasad kaku Fadhil. Mataku meneteskan air mata dengan derasnya. Seandainya bisa aku ungkap rasa bersalahku, rasa penyesalanku dan rasa sedihku. Aku tak tahu apa yang telah merasukiku. Aku memang sudah berubah, bukan seperti dulu lagi ketika masih bersahabat dengan Fadhil.
       Di saat-saat terakhir saja, Fadhil menunjukkan sikapnya yang benar-benar bersahabat denganku. Sementara Fairuz yang ku anggap sahabat sejati, malah kabur tanpa peduli dengan keadaanku. Sahabat macam apa itu?!
       Mulai saat itu, anggapanku tentang arti sahabat menjadi berbeda. Sahabat sejati mungkin tak selalu hadir untuk kita, tapi dia siap selalu mendukung dan menasihati kita. Ternyata sahabat sejati itu bukanlah orang yang selalu membenarkan perkataan dan perbuatan kita. Sahabat sejati itu adalah orang yang selalu berkata benar tentang kita, berkata benar tentang perbuatan kita.



[1] Penyuka sesama jenis (untuk lelaki)
[2] Semacam olahraga extreme yang memadukan antara kekuatan serta ketangkasan gerak tubuh
[3] Kamera yang digunakan untuk mengawasi keamanan suatu gedung atau bangunan
[4] Lampu senter

SURGA DI WAJAH ANAK-ANAKKU



Oleh: Aisyah Asafid Abdullah
            Tiga tahun telah berlalu, masa-masa sulit ditelan habis dan pada akhirnya menemui hari ini. Setelah berpisah dengan isteri terdahulunya, Hafis memutuskan menikahi gadis usia dua puluh empat tahun. Ia mempunyai alasan kenapa ia menikahi gadis yg usianya jauh dari dia dua belas tahun.
            Kesepakatan Hafis dengan isteri terdahulunya, Rany. Pada setiap bulan di minggu pertama ia akan menemui Kayla dan Dimas, kedua anaknya. Tapi minggu ini Hafis mengajak isteri barunya, Laila. Ternyata diluar dugaan Hafis, kedua anaknya tidak bisa menerima Laila dengan baik.
Ketika Laila membawa hadiah dua buah boneka beruang untuk Kayla dan Dimas.
“Saya tidak suka hadiah darimu!” Kayla sambil melempar boneka beruang berwarna pink  pemberian Laila. Lalu Laila menarik boneka beruang berwarna biru milik Dimas dan kembali ia lempar. Dimas masih belum mengerti apa-apa, karena usianya masih lima tahun.
“Tidak apa-apa sayang kalau kalian tidak suka.”Laila tersenyum sambil mengusap Kayla dan mencium Dimas. Laila mengambil hadiah di pelataran, lalu ia membisikan suaminya dan pergi.
Harapan Laila, semoga dengan awal perkenalan ini kedua anak dari suaminya itu lebih cepat dewasa dan memahami kondisinya seperti apa. Meskipun mereka bukan darah dagingnya, tapi dari awal ia menerima pinangan Hafis karena menyanyangi kedua anak dari suaminya itu. Dalam diam ia bersikap bijak dan memasang senyum saat meninggalkan Kayla dan Dimas. Karena hakikatnya mereka adalah anak yang tidak mengerti apa-apa, pikir Laila.
Melihat apa yang telah terjadi pada anak dan isteri tercintanya Hafis tak bisa menyimpan kesedihannya, air matanya tumpah. Ia tak bisa membendung air matanya.  Ia tak bisa menyisihakan lara di hati kedua buah hatinya itu.
“Maafkan abi ya nak!” Hafis sambil memeluk kedua anaknya. Hafis ayah berwajah oriental itu memeluk kedua anaknya, dan mengantarkan pulang tanpa ditemanin Laila.
Air mata bukan pemilik tunggal perempuan. Jadi jangan heran ketika engkau melihat lelaki menitihkan air mata. Karena tidak adil, jika lelaki tak boleh menangis. Rasa yang telah dirasakan Hafis begitu perih meringkih.
Begitu mudahnya Tuhan membalikan takdir putih seseorang menjadi hitam, hitam menjadi putih. Begitu yang sedang dirasakan lelaki berusia tiga puluh delapan tahun itu. Kehidupan yang dirasakannya telah sempurna, kini hanya sebuah cerita.
Hakikatnya dia lelaki yang perasa tak mudah ditaklukan, apa saja ia bisa lakukan. Tapi Tuhan maha baik, diambilah yang dititipkan Tuhannya. Rasa yang dimiliki isteri terdahulunya, Rany. dialihkan pada lelaki lain.
            Kebaikan memang tidak akan selalu dibalas kebaikan. Itulah yang dirasakan Hafis, diam-diam teman semasa SMA-nya mencuri madu miliknya dan menghisapnya. Diawal pernikahan Hafis  meskipun Beno sudah berkeluarga ia kerap mengganggu Rany, dengan alasan meminjam uang untuk susu anaknya. Pikir Hafis tak ada salahnya untuk meminjamkannya, hanya saja akivitas meminjam itu berulang kali. Hingga malaikat dalam diri Hafis mengatakan pada sang Isteri. “ Berilah pekerjaan, kasihan Beno bisa meminjam tapi tidak bisa membayar!”. Ungkap Hafis.
            Sebulan kemudian, Rany memberi pekerjaan pada Beno satu divisi dengannya. Di sebuah perusahaan multi nasional. Dengan berjalannnya waktu, Hafis dengan aktivitas yang berbeda dengan posisi manager disebuh perusahaan komunikasi. Ia tidak bisa mengontrol waktu untuk isteri dan anak-anaknya. Ia kerap diberi beban tugas ke luar kota bahkan ke luar negeri.
            Dari situlah madu terlarang itu dihisap. Hingga pada akhirnya terkuak perselingkuhan Rany dan Beno yang memborbardir hati Hafis. Ia tak berdaya, karna rasa dalam kelakar hatinya semua milik sang isteri dan anak-anaknya. Ia tak bisa menyulam rapi luka dihatinya. Otaknya buntu, tidak sehat berfikir. Dampaknya kejayaan kariernya berakhir. Ia meninggalkan pekerjaannya tanpa alasan. Pikirnya tak menjangkau tugas-tugas di perusahaan, karna ia terlalu sibuk menata hatinya yang telah hancur.
            Rumah dan mobilnya dijual habis oleh isterinya. Pikir Hafis tertanam pada hati kedua anaknya, Kayla dan Dimas. Bagaimana ia bisa menceritakan apa yang telah terjadi pada pelipur laranya. Ia tak bisa menyisihakan lara di hati dua buah hatinya itu. Karena kedua anaknya pun masih kecil.
            Sebelum menikahi Laila, Hafis kerap terlihat bersama dengan anak-anak dan Rany. Katanya, demi anak-anak mereka berpura-pura dalam perasaan. Anak-anaknya tahu bahwa ayahnya sekarang bekerja di luar kota sehingga bertemu dengan ayahnya hanya weekend.
            Tetapi setelah kejadian minggu kemarin, bersama Laila. Kedua anaknya tak mau lagi bertemu ayahnya. Ketika Laila tahu, Laila menyarankan untuk pergi setiap minggu bersama anak-anak dengan Rany. Namun Hafis menolaknya, karena ia tak mau menyakiti  perasaan Laila.
            “Tidak sayang, ini tidak adil untukmu!”Hafis.
            “Tidak apa-apa sayang, demi anak-anak kamu mereka membutuhkanmu!” Laila sambil memegang tangan Hafis.
            “Kalau ada orang yang kukenal memergoki kami berjalan bersama, aku tak mau ucapan-ucapan miring yang menyakiti hati kamu sayang.” Hafis khawatir.
“Biar sayang biar kata orang apa, yang terpenting kamu pergi besama anak-anakmu tidak menimbulkan fitnah!” Laila.
“Kau baik sekali sayang.” Hafis sambil memegang janin Laila yang sudah berusia dua bulan.
            Meski awal kesalahannya ada pada Rany, tapi semua masalah seperti diputar balikan. Seakan-akan dalang dari permasalahannya adalah Hafis. Terutama dimata anak-anaknya. Tapi Hafis menerima dengan baik, waktu yang akan menjawabnya. Pikir anak-anaknya, ayahnya telah meninggalkan mereka demi Laila.
Padahal pada kenyataanya, ayahnya telah berpisah dengan ibunya sudah tiga tahun. Bahkan Hafis sudah mengajak untuk rujuk, dan memaafkan apa yang telah dilakukan Rany dengan Beno terhadapnya. Tapi Rany menolaknya, karena Hafis sudah tak mempunyai apa-apa.
            Diputuskanlah hati Hafis pada gadis usia dua puluh empat tahun, Laila. Meski usianya terpaut jauh dua belas tahun. Laila seperti orang tua berwujud muda.
*****
Setelah lima tahun pernikahannya dengan Laila. Hampir Hafis lupakan tentang harapan Kayla dan Dimas bisa menerima Ramzi, anaknya dari Laila. Ia tak bisa hidup berlama-lama dalam dua cabang yang terpisah. Kekuatannya hanya pada anak-anak dan isterinya.
Musim hujan kini telah pergi, kini kembali matahari bertengger pada siang hari Hakikatnya dunia ini berbentuk bola, selalu berputar dan subjeknya adalah Tuhan. Semua sisi dapat dirasakan, adil. 
Hari di bumi Djakarta mulai meninggalkan sore, lembayung kuning menyambut petang. Lelaki yang kini berusia empat puluh tiga tahun itu merasa kesabarannya sia-sia. Meski pekerjaan yang sempat ia abaikan kini ia dapatkan kembali. Pikirnya tak ada gunanya.
 Sudah seminggu ia meninggalkan Laila dan Ramzi ke Balikpapan untuk tugas yang dibebankannya. Lelaki yang rambutnya sebagian memutih itu ragu melangkahkan kakinya ke rumah.
Ia mendapati isterinya sedang menutup jendela kamar. Ia mengagetkan dengan sebuah pelukan hangat. “Aku tidak bisa mengerti tentang dunia ini, sayang” Ucap Hafis pada isterinya. “Jika demikian artinya engkau juga tidak dapat mengertiku?” jawab Laila sambil melepas dasi dari leher suaminya itu. Ia duduk terdiam tidak menjawab seperti mengiyakan.
“La, rokok dilaciku kau buang yaa?” Hafis mengalihkan pembicaraan. “Tidak bang, aku simpan kupindahkan , Ramzi suka membuka lacimu.” jawab Laila sambil beranjak mengambil rokok suaminya. “Tumben, biasanya kau buang diam-diam!”. “Aku sedang berusaha mengertimu, Bang.”ucap lembut Laila. Mendengar ucapan Laila, Hafis mengecup kening isterinya. 
            “Ramzi dimana?” Tanya Hafis. “Dia sedang bermain ayunan di belakang” jawab Laila. Hafis segera ke belakang rumah menemui buah hatinya itu. Ketika keluar ia mendapati ketiga buah hatinya. Kayla menggendong Ramzi, dan Dimas mendorong ayunan dari belakang. Pemandangan surga, ia terhenti dengan rasa yang mengharukan. Laila memeluk Hafis dari belakang pintu. “Apa kau sudah mengerti tentang dunia, sayang?” ucap Laila. Hafis mengecup kening Laila “ Terima kasih sayang.” ucap Hafis sambil membalas pelukan Laila.
            Pikir keduanya, tidak perlu diceritakan tentang ketidakbaikan seseorang apalagi orang terdekat orang yang dicintai. Meski seperti memikul banyak beban yang tak pernah dilakukan. Melangkah seperti dikejar anjing galak. Tapi itulah ilustrasi yang dirasakan orang sabar. Meski perlahan dan masih saja terjatuh, dan perlahan bangkit kembali. Hakikatnya sebuah konsisten dalam bersikap baik dibutuhkan untuk melihat surga di wajah-wahah orang tercinta.


Minggu, 16 November 2014

SEUTAS CINTA

Oleh    : Aisyah Safitri Hayati

Nuriana telah meninggalkan pagi sampai malam untuk pekerjaannya. Suatu ketika malam itu ia menemui seorang lelaki tak dikenal disebuah cafetaria. Diam-dian Nuriana memperhatikan lelaki yang duduk di sudut kanan café ia sedang berbincang dengan teman-temannya. Pikirnya  lelaki tampan, berkulit hitam, berbadan tegap itu sasaran empuk untuk sebuah produk yang sedang ia promosikan. Nuriana mencuri perbincangan lelaki berkulit hitam hitam itu, bahwa ia seorang kapten di sebuah kapal yang mengangkut batu bara di Kalimantan.

“Mohon maaf pak saya mengganggu bapak, saya Nuriana boleh saya minta kartu nama bapak? Ini kartu nama saya.”Ucap Nuriana sambil menyerahkan kartu namanya.
“Oh ya terima kasih, tapi maaf kebetulan saya tidak bawa kartu nama bu.” Ucap lelaki itu.
“Oh begitu pa, boleh saya minta no telponnya?” Ucap Nuriana tak kehabisan akal.
“Oh boleh 083898989898.” Jawab Lelaki itu. Nuriana mencatat di buku kecil yang ia bawa kemana2. Karena hp-nya habis baterai.
“Oh ya terima kasih pa, maaf pa dengan bapak siapa?” Tanya Nuriana
“Sean, bu.”
“Baik terima kasih pa Sean.” Nuriana meninggalkan Sean dengan senyum.

Hari ini Nuriana seperti memeras keringatnya, saat masih kuliah ia nyambi mengajar di salah satu sekolah menengah pertama. Setelah lulus dari sarjananya, ia tidak lagi mengajar, ia lebih memilih bekerja menjadi unit manager di salah satu perusahaan besar di Jakarta dan ia mendapatkan beasiswa dari perusahaan untuk melanjutkan S2nya. Ia merasa apa yang terjadi pada dirinya seperti meminum madu dari Tuhan.
Malam selepas bekerja ia langsung menuju ke tempat perkuliahan. Malam itu, ia begitu kelelahan. Sebelum ia tidur hp-nya berdering, bunyi sms dari nomor tak dikenal.

“Assalamualaikum bu, lagi ngapain bu?” sms dari nomor tak dikenal.
Pikir Nuriana, yang sms itu adalah anak murid di SMP dahulu ia mengajar. Karena ia terlalu lelah, ia pun menangkap isi sms tersebut adalah menanyai kabar.

“Walaikumsalam wr wb. Ibu baik sayang.”sms Nuriana.
“Kok sayang?”.
“Mohon maaf ini siapa ya? Saya kira anak murid saya yang menanyakan kabar saya.” Sms Nuriana.
“Oalah bu, makanya jangan terlalu lelah bu. Saya sean bu. Yang tadi ibu minta no saya.”
“Oh maaf pa, saya belum save no bapak.” Sms Nuriana.
“Iya bu tidak apa-apa, silakan istirahat bu mohon maaf menggangu.” Sms sean

Semenjak itu, entah dengan alasan yang tak begitu jelas. Sean selalu menelpon Nuriana untuk mengajak bertemu. Nuriana selalu menanyakan untuk keperluan apa bertemu kepada sean. Namun jawabannya hanya ingin mengobrol dan mengajak makan malam. Nuriana mati kutu, awalnya ia meminta nomor hp sean hanya untuk urusan kerjaan. Tapi ia merasa seperti terikat dengan ia meminta nomor hp Sean.

Pikir Nuriana positif dengan ajakan makan malam Sean, pikirnya tidak apa-apa untuk menambah teman-teman. Malam itu ia mengajak makan bersama teman-temannya, malam berikutnya ia kembali mengajak bertemu. Karena Nuriana sudah menganggap Sean adalah teman barunya. Ia pun menerima ajakan Sean. Kali ini ia mengajak Nuriana untuk menemaninya bermain bowling. Nuriana pun hanya ikut dalam keseruan berteman. Besoknya ia mengajak Nuriana untuk menemaninya ke sebuah pusat elektronik untuk membeli hp. Dua hari kemudian ia mengajak Nuriana untuk datang keacara perkumpulan dengan teman-temannya karena lusa ia akan turun ke laut selama enam bulan. Nuriana pun datang ke acara Sean.

Saat itu banyak sekali teman-temannya yang datang untuk menemui Sean. Bahkan ada bebebrapa temannya yang sudah mempunyai istri bahkan mempunyai anak datang menemuinya. Ketika Nuriana terlambat datang, Nuriana merasa orang yang telah ditunggu Sean adalah dia. Bahkan teman-temannya mengira bahwa Nuriana adalah pacar Sean.

“Bukan,saya temannya.” Jawab Nuriana pada teman perempuan Sean saat teman sean mengira bahwa Nuriana adalah pacar sean.

Nuriana menarik kesimpulan dan menilai seorang Sean, dari beberapa pertemuan dengan sean dan teman-temannya. Ternyata Sean bukan hanya tampan tapi dia seorang yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap teman-temannya. Bahkan Nuriana melihat Sean begitu berat meninggalkan teman-temannya tersebut. Dari situ Nuriana menilai Sean adalah lelaki yang baik.

Malam sebelum pagi Sean pergi. Ia mengajak Nuriana kembali, ia mengajak makan malam. Hanya saja mereka berdua. Tidak tahu kenapa malam itu seperti ada hal yang berbeda. Sean lebih serius ketika berbicara pada Nuriana. Bahkan hal yang mengagetkan, Sean mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Nuriana.

“Na, tidak tahu kenapa semenjak pertama kali bertemu kamu. Saya sudah jatuh cinta kepadamu. Saya mau serius kepadamu.” Ucap Sean.


“Secepat itu? Apa yang membuat kamu jatuh cinta pada saya?” Tanya Nuriana.
“Saya tidak tahu.” Jawab Sean.

Duhai cinta yang baru saja datang
jangan tanyakan mengapa aku ada disini
karena mencintai tak  punya waktu untuk membuat alasan
ia begitu cepat menggelora dalam dada
tanpa melihat ia siapa dan dari mana
karena engkau datang tidak melewati mata
tanpa diduga dan disangka engkau sudah berada dalam hati
engkau tertidur pulas disana dan aku tidak akan membangunkanmu, sampai kapanpun akan menjagamu, disini. Di hatiku!

Nuriana memutuskan untuk menjalani terlebih dahulu kepada Sean, agar sama-sama diyakinkan perasaannya.

Terakhir Sean mengantar ke rumah, karena Nuriana mendengar Sean membutuhkan parfum. Nuriana memberikan parfum kepada Sean.


********

Sean selalu menghubungi Nuriana meski terkadang sinyal selalu mengganggu komunikasi mereka. Tiba-tiba ia hilang begitu saja, tanpa kabar. Dan Nuriana pun memberi pesan kepada Sean “Jika sudah tidak ada rasa khawatir dalam hatimu, beri tahu aku, sama hal sebelumnya. ketika engkau sudah diikat dengan sebuah perasaan tidak biasa terhadapku, engaku memberi kabar kepadaku.”

Menghilang………

*********

Sean mengahiri dengan titik. Mengakhiri sebuah rasa yang begitu cepat yang menghampirinya . Hanya sebuah sapaan dan senyum Nuriana, ia berani mengatakan cinta pada Nuriana. Nuriana, tidak pernah menolak hanya saja penuh Tanya (?). Bagaimana ia bisa mengatakan begitu cepat ?. Apa yang membuat ia jatuh cinta? Dan jawabannya kala itu hanya “tidak tahu”. 
Lalu apa alasan Nuriana menolak kebaikan, tidak ada pikirnya. Hanya saja Nuriana memerlukan waktu untuk mendapatkan cinta yang berkualitas.

Nuriana, tidak ingin sesuatu yang menyakitkan terjadi karna sebuah cinta yang terburu-buru. Saling mengenal adalah jawabannya. namun pada akhirnya bukan hanya saling mengenal tapi rasa yang begitu menyakinkan untuk Sean.  Dan pikir Nuriana, mencintailah karna Allah bukan focus pada orang yang telah dicintai sedangkan ia baru mengenal  Nuriana dengan waktu perkenalan seumur jagung .

Pikir Nuriana, bolehlah Sean mengenal perempuan lain kala itu ia menyampaikan pada Sean kala Sean begitu gencar mengatakan cinta pada Nuriana via pesawat telepon. Nurian merasa takut karena Nuriana benar-benar sedang menyakinkan dirinya tentang perasaan dalam dirinya.

Karena ia merasa belum mempunyai rasa yang menyakinkan itu, bukan tidak yakin pada Sean. Tapi ia belum merasa yakin atas perasannya terhadap Sean. Karena memerlukan waktu.

Dan suatu hari, Nuriana tidak dapat menghindari rasa yang begitu menyakinkan pada Sean. Kala Sean lama tak menghubunginya. Dan bagaimana Tuhan baru saja menitipkan sebuah rasa yang tidak biasa pada Nuriana. Lalu, Nuriana benar-benar memperbaiki komunikasi yang sangat buruk dengan Sean. Nuriana mulai menelpon dan menanyakan kabar Sean. Nuriana merasa sudah mempunyai alasan pada Sean  bahwa ia sudah merasa yakin bahwa ia adalah jawaban dari setiap persoalannya.

Hanya saja, ungkapan itu belum terucap. Sean mengatakan pada Nuriana bahwa ia telah datang pada Tuhannya malam – malam sebelum tidur menceritakan ia pada Tuhannya. Lalu malam berikutnya Tuhan menemui Sean dalam mimpinya, bahwa Nuriana bukan yang terbaik untuknya. Mendengar apa yang telah diucapkan Sean, Nuriana menahan tangis dan mengatakan,

“Baik kalau memang itu datang dari Tuhanmu!”. Ucap Nuriana “Hanya saja Aku juga ingin mengatakan padamu, bahwa aku sudah diyakinkan dengan Tuhanku tentang perasaanku padamu, aku sudah mulai mencintaimu dan menerimamu.” Ungkap Nuriana

“Kenapa engkau menemui Tuhanmu setelah engkau mengatakan cinta kepadaku?, Kenapa tidak sebelum itu!” ucap Nuriana pada Sean via telepon


Rabu, 12 November 2014

Kembali kala Senja

Oleh : Aisyah Asafid Abdullah

Sesudah kembali dari bekerja, Dewi langsung merebahkan badan ke kasur. Walaupun kamarnya berantakan, pengap dan sesak ia tak hiraukan. Ia terlalu lelah, yang ada dalam pikirannya hanya ingin istirahat, agar besok ia bisa bekerja lagi.

Waktu istirahat begitu cepat berlalu, jam weker yang berada dimeja berbunyi melengking membangunkan Dewi. Sudah jam lima..!, waktu seperti di gerakan oleh sesuatu yang memaksa. Ia segara mandi dan sholat.

“Astagfirullah, aku lupa lagi ke tukang jahit untuk menjahitkan beberapa rokku..”gumam Dewi
Keadaan yang tidak pernah berubah dari pertama kali mengenek sampai sekarang, rok yang ia pakai selalu sobek.

Perjalanan menuju ke tempat ia bekerja, hatinya bersenandung gundah gulana, ia memikirkan sitohang, berharap supirnya itu mengerti dan tidak memarahinya karena hanya telat nembak. Sampai dipangkalan, ia berlari kecil, temannya Abdul meneriaki Dewi.

“Cepat wi ,sitohang sudah marah-marah..!” teriak Abdul
Mendengar Abdul, ia langsung mengencangkan larinya. Hatinya berdebar debar ketakuatan, beberapa kali ia membenarkan jilbab semampai pinggangnya yang kemarin ia bekas pakai, bau kecut dan dekil. Entah apa yang akan terjadi terhadapnya, ia seperti kembali  membangunkan macan dalam tidurnya.

“Yahh ini semua salahku..!”, Dewi dalam hati dengan nafas yang terengah-engah
“Dewi….!!!” jeritan sitohang itu melengking tajam membelah udara, jeritan yang sering ia dengar setiap pagi
“Ya ,ana1 salah,bang..afwan2 bang..!”kataku,suaraku gemetar ketakuatan
“ana afwan ana afwan, ana eno eee, ayo langsung tancap..!” Sitohang kesal

Metromini jurusan semper terminal senen yang dikendarai Sitohang, melintas kencang. Dewi di pintu belakang sesekali mengacungkan tangannya ketika melihat orang-orang yang melihat ke arahnya. Lalu setiap ada penumpang yang mau menggunakan jasa metromininya, Dewi membunyikan kaca dengan uang logamnya.

 “tek..tek..tek..!”

Hari ini cuaca mendung, penumpang tidak banyak seperti biasanya bisa dikatakan sedikit sepi. Saat itu metromini ngetem di persimpangan pasar menunggu penumpang. Dewi dengan mata celingukan mencari-cari penumpang. Namun terlepas dan pikirannya jauh terlintas kembali oleh masa lalunya,yang menyedihkan.

*****
Ketika mengingat masalalunya, ia seperti membalikan tangannya diantara mimpi dan nyata. Tepatnya Dua tahun yang lalu ketika ia bekerja di salah satu hotel di Jakarta sebagai recepsionis. Jauh lebih berbeda dengan keadaan sekarang. Keadaannya berubah drastis dari bekerja di ruang berAC sampai bekerja hujan-hujanan dan kepanasan.  

Namun hatinya jauh lebih tenang karena ia kembali pada jilbabnya, yang sempat ia gantung karena tuntutan pekerjaan sebagai recepsionis. Sebelum ia putuskan sebenarnya ia sudah diingatkan oleh seseorang yang mempedulikannya, Irwan sekaligus manager hotel dimana Dewi bekerja dulu.

Dewi adalah lulusan terbaik SMK pariwisata di Jakarta, ibunya sudah lama meninggal. Sebulan setelah kelulusannya, ayahnya tidak bekerja lagi karena sakit. Karena mencari pekerjaan begitu sulit, akhirnya ia merelakan menggantugkan jilbabnya untuk menjadi resepsionis.

“Sabar , tunggu sebentar lagi, kamu pasti mendapatkan pekerjaan yang lebih baik tanpa menggantungkan jilbabmu..!” pungkas Irwan
“Sampai kapan kamu membiayai semua itu mas, aku merasa tak enak..” Dewi dengan nada sedih
“Tak perlu tak enak seperti sama siapa saja, aku ini kan calon suamimu..”jawab Irwan
“Aku mencintaimu, tapi aku belum siap untuk menikah..”Dewi dengan nada menggantung
“Lantas kamu akan teganya melepas jilbabmu yang sudah kamu kenakan dari SD itu.., Jika ayah tahu pasti ayah pun tak mengijinkan..”Irwan mencoba membujuk  Dewi
“Aku tahu, jangan sampai ayah dengar, ini rahasia..”jawab Dewi memelas

Ia mengenal Irwan sudah lama, mengenalnya lewat jejaring sosial. Kesan pertama melihatnya,  ia begitu tampan, berbadan tegap, berkulit putih, hidung mancung dan kharismatik yang mempesona. Seorang manager hotel dimana Dewi bekerja menjadi recepsionis. Dewi bisa bekerja di hotel pun karena irwan, meski begitu ia harus menelan ludah melihat calon isterinya melepaskan jilbab. Karena ia tidak mempunyai wewenang  mengenai peraturan pegawai.

Pertama kali masuk bekerja Dewi sangat bahagia karena ia bisa bekerja di salah satu hotel terelite di Jakarta. Meski ia mempertaruhkan jilbabnya, waktu itu ia dipanggil oleh pemilik hotel. Pemiliki hotel itu bernama ibu Monik, serasa aneh ketika dipanggil langsung oleh pemilik hotel. Namun saat itu Dewi tidak terlalu memikirkannya.
“Siapa namamu..?” Monik menayakan
“Dewi Sabrina..?” Jawab Dewi
“Kamu benar saudara Irwan..? Monik dengan wajah sedikit ragu
“Iya, saya saudara Bpk. Irwan, bu memang kenapa bu..? Dewi bohong
“Oh, begitu tidak apa-apa, ya sudah kamu kembali bekerja..!. jawab Monik

Disekitar hotel tidak ada yang tahu bahwa Dewi adalah calon isteri irwan, jangankan calon isteri kalau mereka mempunyai hubungan dekat pun mereka tidak tahu. yang mereka tahu Dewi adalah saudara dari Irwan.

Ini memang permintaan Irwan, sebelum Dewi dipekerjakan di hotel. Dan Dewi menyetujuinya.
Namun setelah tiga bulan bekerja menjadi recepsionis, meskipun hubungan dekat Dewi dengan Irwan aman terkendali. Tidak ada satupun yang tahu. Meski begitu masalah timbul pada diri Dewi yang kerap cemburu melihat kekasihnya diidam-idamkan oleh teman-teman kerjanya.
            
Ketika itu Irwan melintas di depan lobby, tiba-tiba temannya berbicara dengan volume kecil pada Dewi.

“Wahhh.. Bpk. Irwan benar-benar tampan sudah begitu tipe pria yang ramah..!, beruntung sekali perempuan yang ia cintai..!”Reny memuji
            “Benar, beruntung sekali..” Dewi dengan senyum memaksa
            “Andai bu monik  tidak menyukai Bpk irwan, pasti saya sudah mengejar-ngejarnya..” Renny dengan muka sinis.
“Apa kau bilang..?”Dewi kaget
            “Iya, Bu monik tante-tante itu menyukai saudaramu..?” Reny menjelaskan sedikit kesal
            Mendengar Reny berbicara seperti itu, Dewi semakin panas dalam hatinya menduga-duga bahwa Irwan mempunyai hubungan serius dengan Bu Monik..
            “Pantas saja ia menyuruhku untuk diam mengenai hubungan dekat ini..!”Dewi
            Lalu ia berfikir ulang lagi..
            “Hmmmm pantas saja bu monik memanggil saya saat pertama kali bekerja sekedar menanyai saudara irwan atau bukan, hmm benar-benar kamu mas..!” Dewi membatin
           
 Setelah mendengar kabar tersebut, Dewi hanya diam. Namun semakin hari ia merasa banyak masalah yang bergulir yang sulit ia pecahkan. Setiap malam ia kerap gelisah, susah tidur. Memikirkan masalah-masalah itu.
“Memang benar cemburu itu menguras hati. Tapi kenapa mas irwan menyembunyikan semua ini..!”

Ia cemburu setiap teman – temannya menggodainya , ditambah lagi dengan gossip beredar bahwa irwan mempunyai hubungan sangat dekat dengan Monik.

Dan setiap ia tanyakan masalah hubungannya dengan Monik. Irwan  selalu mengelak dan tak mengakuinya, justru membuatnya lebih buruk bukan lebih baik. Setiap harinya ia selalu di kejar kejar dengan perasaan yang tak menentu bimbang.
           
Entah kabar dari mana, akhirnya Monik mengetahui hubungan Dewi dengan irwan. Irwan di pecat karena ia lebih memilih Dewi daripada pekerjaanya, ini memang pembuktian bahwa diantara Irwan dan Monik tidak ada hubungan apa-apa. Kecuali cinta bertepuk sebelah tangan Monik.

Setelah Monik mendengar keputusan Irwan, justru Monik menawari Dewi tetap bekerja. Dan keputusan konyol Dewi adalah tetap bekerja di hotel Monik.
Malam-malamnya Irwan ke rumah Dewi untuk  menyuruh berhenti bekerja dari hotel monik. Bahkan ia  mengajak Dewi menikah, tapi Dewi malah menolaknya.

“Aku belum siap menikah mas, aku ingin sukseskan karirku.. kasihan bapak kalau aku berhenti bekerja..!” Dewi memelas

”Aku sudah menawarkan hal yang terbaik untukmu,masalah pekerjaan rizki Allah sangat luas wi, apa kamu sudah memikirkan hal terburuk jika kamu masih tetap bertahan bekerja dengan Monik..!” Irwan kesal
“Insya Allah tidak mas..”Dewi dengan tegas
“Kamu benar-benar berubah wi, bukan Dewi yang dulu yang jauh lebih mengenal tentang kehidupan..”Irwan
“Kehidupan apa..!”jawab Dewi
“Kau sudah tak mengenali kehidupan semenjak kau melepas jilbabmu..”  

Jika ingat hal itu batinnya sedikit meringis menahan sakit. Melepaskan jilbab demi karir, ayahnya yang sakit yang kerap dibuat alasan untuk bertahan bekerja dengan Monik akhirnya ia dipanggil Allah. yang lebih menyesakkan hatinya, ayahya meninggal karena terserang jatung mendengar Dewi bekerja sebagai perempuan penghibur di sebuah hotel. Semua itu karena ia melepaskan jilbab demi karirnya yang menjulang tinggi.
Namun setelah ayahnya meninggal ia seperti kembali mengenali arti kehiduapan yang sebenarnya. Jilbabnya yang sudah ia gantung setahun lebih itu, ia kembali mengulurkan jilbabnya hingga pinggang. Ia pun meninggalkan pekerjaan sebagai resepsionis.
*****
            “Hheh bengong aje neng, ada penumpang tuhh…” seorang  penumpang menganggetkannya
Ia tersadar dari masa lalunya yang begitu kelam..
*****
Sore itu ia sudah pulang, ia berencana untuk menjahitkan rok-roknya yang sobek ke tukang jahit.
Tukang jahit langgannya yang dekat rumah sudah pindah, akhirnya ia pulang mengambil sepeda bututnya untuk mencari penjahit baru.

“Tidak bisa ditunda lagi, semua rokku  sobek semua,..” dalam hatinya
Ia kayuh sepeda itu dengan sisa tenaganya, sebentar lagi mau magrib. Maka ia mengayuhnya dengan sedikit terburu-buru, sesekali ia mengusap keringat yang mengalir di keningnya dengan jilbab panjangnya.

Setelah mencari-cari akhirnya ia menemukan penjahit dalam gang sempit dan tempatnya tidak strategis. Seorang Pria usianya masih mudah sekitar dua puluh delapan tahuan, berkaca mata. Namun ada yang membuat sedikit menarik perhatian yaitu kaki kirinya diamputasi.
  “Mas, saya mau menjahit rok yang sobek, bisa di tunggu sekarang..?”Dewi
“Bisa, tapi ini sudah mau margib mungkin saya jahitkan setelah magrib..”Pria itu menjawab tanpa menoleh

 “Baiklah saya tunggu, maaf mas masjid didekat sini dimana yah..?” Dewi
“ Masjid disini jauh, kalau mau shalat dirumah saya saja..” Pria itu tanpa menoleh langsung masuk kedalam rumah sedikit kesusahan

Lalu Dewi beranjak mencoba menuntunnya kedalam,
“Bisa saya bantu mas..” Dewi  
“Tidak usah, terima kasih..” sambil menoleh Dewi
Wajah itu seperti dingatkan kembali kepada masa lalunya kelam, melihat wajah itu antara kesempatan dan penyesalan.

“Mas irwan, mas irwankah ini..?” Dewi kaget
“Dewi..!” Irwan
“Kamu Dewi..” Irwan
“Iya aku Dewi mas..!” Dewi menitihkan air mata antara suka dan duka
Sebelum mereka bercerita panjang apa yang terjadi, mereka shalat magrib berjamaah terlebih dahulu.
“Apa yang terjadi Wi..?” Irwan
“Ayah meminggal mas..!” Dewi menangis
“ Inalilahi Wainailahi Rojiun, kamu sabar dan ikhlas yah semua ini ada hikmahnya..” Irwan
“Iya mas, setelah ayah meninggal aku seperti bisa melihat kembali, setelah sekian lama dibutakan..” Dewi sambil menusap air matanya
“Lantas apa yang terjadi mas, kenapa dengan kakimu..” Dewi
“ Aku kecelakaan motor saat kau memutuskan bertahan bekerja dengan monik..
“Kenapa kamu tidak memberi kabar..?” Dewi menyesal
“Aku takut, aku takut lebih menyakitkan lagi..” Irwan sambil membenarkan kaca matanya
Mendengar Irwan berbicara seperti itu Dewi menangis, menyesal karena ia telah menyakiti seseorang yang menyanyangi sepenuh hati.
“Maafkan aku mas, mas nikahi aku agar aku bisa menjagamu setiap hari..” Dewi penuh harap
“Apakah kau tulus..?” Irwan ragu
“Iya mas…” Dewi tersenyum sambil mengangguk mengusap air mata dipipinya